Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bahan Pangan dari Mikroalga untuk Antisipasi Lonjakan Populasi

📅 Jumat, 10 Mar 2023, 06:40 WIB | Oleh:
Bahan Pangan dari Mikroalga untuk Antisipasi Lonjakan Populasi Doc: Istimewa

Alga menarik minat para peneliti karena potensinya untuk menjadi sumber makanan yang lebih efisien. Pemanfaatannya sangat potensial karena tumbuh di perairan sehingga tidak mengganggu lahan pertanian dan tahan dalam kondisi ekstrem.

Populasi global saat ini telah mencapai 8 miliar jiwa dan angka ini akan terus bertambah di masa depan. Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), angka tersebut akan meningkat menjadi 9,7 miliar jiwa pada 2050.

Oleh karenanya dibutuhkan sumber pangan baru untuk dapat menopang lebih banyak orang. Di tengah menyempitnya lahan pertanian dan kekeringan sebagai dampak dari perubahan iklim, dibutuhkan banyak terobosan dalam menjaga ketahanan pangan.

Para peneliti di University of California, San Diego, Amerika Serikat (AS) baru-baru ini menerbitkan tinjauan ilmiah yang menunjukkan bahwa mikroalga dan organisme mikroskopis mirip tumbuhan lainnya, dapat membantu memberi makan populasi dunia yang terus bertambah. Selain itu tumbuhan ini juga memiliki sifat lebih berkelanjutan daripada sistem pertanian saat ini.

Mikroalga merupakan mikroorganisme bersel tunggal yang memiliki pigmen dan dapat melakukan fotosintesis untuk memproduksi makanan dan oksigen. Ukurannya sangat beragam dari 1 hingga 50 mikrometer dengan bentuk yang bervariasi, seperti bulat, oval, memanjang, dan menyerupai rantai.

Tumbuhan ini dapat ditemui hampir di semua tempat di Bumi dan berperan penting dalam berbagai ekosistem. Sebagai contoh, mikroalga berperan sebagai produsen utama pada rantai makanan akuatik baik di lautan maupun di daratan seperti danau, sungai, kolam, dan lainnya.

Mikroalga juga dapat ditemukan pada perairan ekstrem, seperti di sumber air panas yang memiliki pH rendah maupun tinggi dengan mencapai suhu 56 derajat Celsius. Mikroalga hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop, namun jika perairan mengalami eutrofikasi, perkembangan mikroalga akan terjadi secara massal yang membuat perairan tersebut berwarna hijau toska atau merah, sesuai dengan warna pigmen mikroalga yang tumbuh.

Menurut para peneliti, industri daging sapi AS merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca dan pencemaran lingkungan. Krisis iklim yang ditimbulkan dan degradasi ekosistem ini dapat mengancam ketahanan pangan jangka panjang bagi miliaran orang di seluruh dunia.

Para peneliti di University of California, San Diego (UCSD), percaya alga bisa menjadi makanan super jenis baru berkat kandungan protein dan nutrisinya yang tinggi. Mereka menerbitkan makalah diFrontiers in Nutritionyang berisi literatur ilmiah terkini tentang mikroalga, istilah umum untuk ribuan spesies alga mikroskopis dan organisme fotosintetik lainnya seperticyanobacteriayang ditemukan di berbagai lingkungan perairan.

Tinjauan ini menyoroti teknologi terkini untuk mengembangkan dan menumbuhkan mikroalga secara komersial, serta tantangan ilmiah dan ekonomi untuk meningkatkan produksi. Meskipun telah lama dipelajari sebagai sumber biofuel berkat kandungan lipid atau lemaknya yang tinggi, alga juga menarik minat para peneliti karena potensinya untuk menjadi sumber makanan yang lebih efisien.

"Banyak dari kita telah mengetahui potensi alga untuk makanan selama bertahun-tahun, dan telah mengolahnya sebagai sumber makanan, tetapi perubahan iklim, penggundulan hutan, dan populasi delapan miliar orang, kebanyakan orang menyadari bahwa dunia hanya harus menjadi lebih efisien dalam produksi protein," kata rekan penulis Dr Stephen Mayfield, seorang profesor biologi di UCSD dan Direktur California Center for Algae Biotechnology.

Lebih Berguna

Sebuah studi 2014 yang dikutip dalam makalah saat ini oleh Mayfield dan timnya menemukan bahwa alga dapat menghasilkan biomassa 167 kali lebih berguna daripada jagung setiap tahunnya dengan menggunakan jumlah lahan yang sama. Model lain memperkirakan bahwastrainganggang yang ada berpotensi menggantikan 25 persen dari konsumsi protein Eropa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Hendak Terbang, Warga AS Di...
Megapolitan
Seorang Tentara AS yang Ter...
Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
Luar Negeri
Resmi Masuk DK PBB, Kirgist...
Ekonomi
Kuartal I, Hilirisasi Nikel...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.