Apakah Memiliki Anak Membuat Kita Lebih Bahagia? Ini Kata Penelitian
📅 Jumat, 22 Mar 2024, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/CeltStudio
Trudy Meehan, RCSI University of Medicine and Health Sciences dan Jolanta Burke, RCSI University of Medicine and Health Sciences
Kepercayaan yang berkembang di berbagai belahan dunia adalah bahwa memiliki anak adalah kunci kebahagiaan, dan bahwa orang yang tidak memiliki anak akan merasa tidak bahagia dalam hidupnya.
Benarkah demikian?
Jawaban dari pertanyaan ini sederhana dan kompleks, dan bahwa kepuasan yang kamu rasakan dalam hidupmu, baik ketika kamu memutuskan untuk punya anak atau tidak, bergantung pada banyak faktor yang kompleks.
Kita mulai dari jawaban sederhananya, yaitu tidak, kamu tidak perlu memiliki anak untuk merasa bahagia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian pada perempuan yang tidak memiliki anak karena pilihannya sendiri menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka merasa memiliki rasa identitas dan individualitas yang baik. Mereka tidak merasa ditentukan oleh peran mereka dalam keluarga, dan merasa memiliki lebih banyak kebebasan dan kontrol atas tubuh, kehidupan, dan masa depan mereka.
Perempuan yang tidak memiliki anak juga melaporkan stabilitas keuangan yang lebih baik, meskipun status sosial ekonomi yang lebih tinggi tidak selalu membuat mereka puas dengan keputusan untuk tidak memiliki anak.
Laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki anak juga rata-rata lebih tidak stres, dan melaporkan tingkat kepuasan yang lebih besar dalam kehidupan pernikahan mereka.
Penelitian tentang pengalaman laki-laki yang memilih tidak punya anak masih sangat terbatas, apalagi tentang pengalaman transgender atau queer yang memilih tidak punya anak. Namun, satu penelitian menunjukkan bahwa mayoritas laki-laki yang memutuskan untuk tidak punya anak merasa puas dengan keputusan mereka dan senang memiliki lebih banyak kebebasan dalam hidup mereka. Hanya sebagian kecil yang menyatakan menyesali keputusannya, sebagian besar karena mereka tidak akan memiliki pewaris.
Namun, ada risiko bahwa laki-laki yang tidak memiliki anak dapat mengalami penurunan kepuasan hidup secara keseluruhan di usia yang lebih tua jika mereka kurang mendapatkan dukungan sosial.
Paradoks menjadi orang tua
Segala sesuatunya menjadi sedikit lebih rumit ketika kita melihat keputusan untuk memiliki anak.
Meskipun menjadi orang tua tentu saja bisa bahagia dan puas dalam hidup, kepuasan yang mereka rasakan dengan keputusan memiliki anak ini biasanya berkembang seiring berjalannya waktu dan juga dapat bergantung pada banyak faktor yang tidak dapat mereka kendalikan.
Pada awalnya, banyak orang tua yang justru mengalami penurunan kesejahteraan sementara setelah memiliki anak. Fenomena ini yang dikenal sebagai "paradoks menjadi orang tua" (parenthood paradox). Ini karena bayi baru dapat menghalangi orang dewasa mendapatkan kebutuhan dasarnya, seperti tidur, makan dengan tenang dan bertemu teman. Hal ini bisa menjadi faktor ketidakpuasan hidup.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!