Sepertiga Populasi Dunia Terpapar Polusi Ozon Sangat Tinggi
📅 Kamis, 01 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiPARIS - Gelombang panas dan kebakaran hutan yang diperparah emisi aktivitas manusia telah menyebabkan sekitar sepertiga populasi dunia terpapar tingkat polusi ozon yang sangat tinggi sepanjang 2026, menurut laporan Uni Eropa (UE) pada Rabu (30/9).
Dalam analisis yang mencakup delapan bulan pertama 2026, Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus (Copernicus Atmosphere Monitoring Service/CAMS) menyoroti hubungan erat antara perubahan iklim dan polusi udara.
Ketika panas dan sinar matahari bereaksi dengan emisi dari kebakaran hutan, kendaraan, dan aktivitas industri, terbentuk ozon di permukaan tanah. Polutan tersebut dapat merusak jaringan paru-paru, menyebabkan gangguan pernapasan, memicu serangan asma, serta menimbulkan masalah kesehatan lainnya.
Meskipun berbagai negara telah mencatat kemajuan dalam mengurangi polutan udara berbahaya selama beberapa dekade terakhir, ozon dinilai lebih sulit dikendalikan karena perubahan iklim menciptakan kondisi yang mendukung pembentukannya.
Polusi ozon pada tahun ini sebagian dipengaruhi gelombang panas dan kebakaran hutan yang memecahkan rekor di Eropa dan Amerika Utara. Asap dari kebakaran tersebut bahkan menyebar jauh melampaui wilayah asalnya.
Indonesia juga mengalami kebakaran hutan dalam skala besar. Sementara itu, pola cuaca El Nino yang lebih panas, yang mulai berlangsung pada Juni dan diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir tahun, berpotensi memicu lebih banyak kebakaran di Asia Tenggara, menurut analisis tersebut.
"Polusi udara tidak berhenti di perbatasan. Polusi udara dapat menempuh jarak ribuan kilometer, melintasi benua dan samudra, serta memengaruhi kualitas udara jauh dari sumbernya," kata Direktur CAMS Laurence Rouil dalam laporan Atmosphere Watch.
Paparan Sangat Tinggi
CAMS menggunakan data satelit dan model komputer untuk memantau polusi udara serta kebakaran hutan. Sistem tersebut menyediakan analisis dan prakiraan komposisi atmosfer secara global, termasuk konsentrasi ozon.
Laporan tersebut menemukan 34 persen populasi dunia terpapar kualitas udara "sangat buruk" pada periode 1 Januari hingga 15 September. Kondisi tersebut berarti konsentrasi ozon berada jauh di atas pedoman paparan yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pedoman WHO menetapkan konsentrasi ozon sebesar 100 mikrogram per meter kubik sebagai tingkat paparan maksimum yang direkomendasikan, dihitung berdasarkan rata-rata selama delapan jam.
Sebanyak 17 persen penduduk dunia menghirup udara dengan tingkat ozon "buruk sekali", sedangkan hanya lima persen yang terpapar kadar ozon dalam kategori "baik".
Asia mencatat tingkat paparan polusi ozon tertinggi. Sebanyak 53 persen penduduknya menghirup udara dalam kategori "sangat buruk", sementara 22 persen lainnya terpapar ozon dalam kategori "buruk sekali".
Emisi yang tersebar luas di kawasan tersebut didorong oleh industrialisasi, pembangunan ekonomi, transportasi, kebakaran hutan, serta pembakaran sisa-sisa pertanian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!