Impor BBM Masih Tinggi, Transisi Energi Harus Dipercepat
📅 Kamis, 01 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiDefisit Migas
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan tingginya impor migas dapat menekan neraca perdagangan sekaligus meningkatkan kebutuhan devisa.
"Impor migas yang tinggi di tengah (harga) minyak mahal menjadi sumber tekanan paling nyata terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan devisa. Dampaknya terjadi sekaligus melalui harga dan volume," kata Josua di Jakarta.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Januari-Juli 2026 surplus 3,70 miliar dolar AS. Namun, sektor migas mengalami defisit 18,75 miliar dolar AS, sedangkan sektor nonmigas surplus 22,45 miliar dolar AS.
Pada periode yang sama, ekspor mencapai 167,03 miliar dolar AS atau tumbuh 4,43 persen, sedangkan impor meningkat 19,94 persen menjadi 163,33 miliar dolar AS.
Menurut Josua, surplus perdagangan dapat menjadi bantalan ketahanan eksternal, tetapi perlu diperkuat melalui peningkatan ekspor produk bernilai tambah dan pengurangan ketergantungan terhadap impor energi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!