Lewat Whitesky, Denon Prawiraatmadja Buka Jalur Indonesia ke Ekosistem eVTOL Asia Pasifik
📅 Rabu, 23 Sep 2026, 14:15 WIB | Oleh: Mohammad Zaki AlatasSHANGHAI — Founder dan CEO Whitesky Group Denon Prawiraatmadja mulai membawa perusahaan melampaui positioning sebagai operator penerbangan domestik menuju peran yang lebih besar dalam perkembangan Advanced Air Mobility di Asia Pasifik.
Melalui roadmap hingga 200 eVTOL dalam 10 tahun, Denon ingin menjadikan kekuatan Whitesky sebagai leading helicopter operator Indonesia sebagai fondasi untuk membawa Indonesia masuk ke jaringan industri eVTOL regional.
Target tersebut bukan sekadar menjadi operator dengan jumlah fleet besar.
Visinya adalah menjadikan Indonesia sebagai tempat bertemunya: global OEM, local operatorship, large domestic market, infrastructure, battery, energy ecosystem dan human capital.
Dalam pandangan Denon, kombinasi tersebut yang nantinya menentukan negara mana yang akan menjadi pemain penting dalam ekosistem AAM Asia Pasifik.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Asia tidak kekurangan teknologi eVTOL. Tantangannya adalah negara mana yang mampu menggabungkan technology, market, operator dan infrastructure menjadi satu functioning ecosystem.”
Indonesia memiliki karakter geografis yang membuat kebutuhan Advanced Air Mobility berbeda dengan negara lain.
Ribuan pulau, pusat industri yang tersebar, destinasi pariwisata, kawasan pertambangan hingga kota-kota sekunder menciptakan kebutuhan terhadap konektivitas yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan jalan raya atau commercial aviation konvensional.
Di sisi lain, Whitesky memiliki akses terhadap sekitar 2.800 corporate customers.
Denon melihat kombinasi geography dan existing market tersebut sebagai modal penting untuk menciptakan use case yang nyata.
“Indonesia tidak harus menciptakan demand dari nol. Banyak mobility demand sudah ada. Tantangan kita adalah menyediakan cara yang lebih efektif untuk melayaninya.”
Whitesky ingin menggunakan skala 200 eVTOL untuk mendorong OEM dan strategic partners membawa lebih banyak capability ke dalam negeri hingga kemungkinan local manufacturing capability secara bertahap.
China menjadi salah satu partner teknologi. Jepang dan Korea dapat membawa capability berbeda. Indonesia kemudian berperan sebagai market dan operating platform tempat teknologi tersebut dikomersialisasikan.
“Sepuluh tahun ke depan, kami tidak ingin Indonesia hanya dikenal sebagai salah satu market eVTOL terbesar. Kami ingin Indonesia dikenal sebagai salah satu tempat di mana ecosystem-nya benar-benar bekerja.” Ujar Denon.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!