Mengenal Mikrobioma Mulut dan Perannya bagi Kesehatan Gigi
📅 Kamis, 17 Sep 2026, 22:23 WIB | Oleh: Haryo BronoMenurut dia, mikrobioma mulut terdiri atas bakteri yang bermanfaat dan bakteri yang berpotensi merugikan. Karena itu, perawatan kesehatan gigi dan mulut tidak semata-mata ditujukan untuk menghilangkan seluruh bakteri, melainkan menjaga keseimbangan komunitas mikroorganisme tersebut.
“Ketika keseimbangannya terganggu atau mengalami dysbiosis, bakteri merugikan dapat berkembang lebih dominan dan memicu berbagai permasalahan gigi dan mulut,” jelas Suryono.
Gangguan keseimbangan mikrobioma mulut dapat berkaitan dengan sejumlah masalah, seperti pembentukan plak, gigi berlubang, radang gusi, hingga bau mulut. Konsumsi gula yang terlalu sering, misalnya, dapat mendorong bakteri menghasilkan asam secara berulang sehingga lingkungan rongga mulut menjadi lebih asam. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan demineralisasi enamel dan memicu karies.
Perubahan komunitas bakteri di sekitar garis gusi juga dapat memicu respons peradangan yang berujung pada gingivitis atau periodontitis. Sementara itu, bau mulut dapat berkaitan dengan aktivitas bakteri yang menghasilkan senyawa sulfur volatil.
Perluasan Akses Pelayanan
Ketua ARSGMPI, Dr. drg. A. Tajrin, mengatakan bahwa keseimbangan mikrobioma mulut dapat dijaga melalui kebiasaan perawatan gigi dan mulut yang tepat.
Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut, membatasi konsumsi gula, memperbanyak makanan bergizi dan kaya serat, serta mencukupi kebutuhan cairan untuk mendukung produksi dan fungsi air liur sebagai pertahanan alami rongga mulut.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari rokok, mengelola stres, mencukupi waktu tidur, serta melakukan konsultasi ke dokter gigi sedikitnya setiap enam bulan.
Pada 2026, BKGN akan melibatkan 29 FKG dan RSGMP di berbagai wilayah Indonesia. Bersama PB PDGI, program tersebut juga akan menyelenggarakan kegiatan edukasi di enam kota dan kabupaten di Jawa Barat serta sejumlah wilayah yang terdampak bencana, termasuk Nusa Tenggara Timur dan Papua.
Wakil Ketua PB PDGI, drg. Tari Tritarayati, mengatakan bahwa Jawa Barat menjadi salah satu wilayah prioritas karena memiliki populasi penduduk yang besar dan masih menghadapi tantangan kesehatan gigi dan mulut.
Ia menyebutkan, 63,4 persen masyarakat Jawa Barat mengalami permasalahan gigi dan mulut, sedangkan 89,9 persen di antaranya tidak mengunjungi dokter gigi selama satu tahun terakhir. Di Nusa Tenggara Timur, prevalensi masalah gigi dan mulut disebut mencapai 55,6 persen, sementara di Papua sebesar 49,4 persen.
Hambatan geografis, jarak menuju fasilitas kesehatan, keterbatasan transportasi, serta belum meratanya ketersediaan dokter gigi menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi akses pelayanan kesehatan gigi dan mulut di wilayah tersebut.
Selain menyasar masyarakat umum, BKGN 2026 memperluas kegiatan edukasi ke pesantren dan komunitas ibu. Kelompok tersebut diharapkan dapat menjadi penggerak kebiasaan baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut di lingkungan masing-masing.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!