Gempa NTT Jadi Alarm, TII Dorong Manajemen Bencana Antisipatif
📅 Rabu, 16 Sep 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Peneliti The Indonesian Institute (TII) Made Natasya Restu Dewi Pratiwi mengusulkan agar manajemen bencana di Indonesia beralih dari pendekatan reaktif menjadi antisipatif, responsif, dan kolaboratif.
Menurut Natasya saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (15/9), perubahan pendekatan tersebut diperlukan agar bantuan dan perlindungan bagi masyarakat dapat disiapkan sebelum dampak terburuk bencana terjadi.
"Pada akhirnya, gempa NTT harus menjadi momentum untuk mengubah cara Indonesia mengelola bencana dari reaktif menjadi antisipatif dan responsif, serta kolaboratif," kata dia.
Natasya menilai gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan bahwa persoalan penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan besarnya ancaman, tetapi juga kesiapan pemerintah dalam menyediakan bantuan dan perlindungan bagi masyarakat terdampak.
Ia mengatakan pascagempa, ketersediaan air minum, air bersih, dan bahan makanan di pengungsian dilaporkan menipis sehingga warga kesulitan memperoleh kebutuhan dasar.
Kondisi tersebut, kata dia, semakin berat bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu melahirkan, ibu menyusui, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas yang menghadapi hambatan berbeda dalam memperoleh layanan kesehatan, informasi evakuasi, maupun bantuan.
"Kelompok yang sejak awal memiliki keterbatasan akses terhadap informasi, mobilitas, layanan kesehatan, maupun sumber daya akan menghadapi risiko yang lebih besar ketika sistem penanganan bencana belum dirancang secara inklusif," ujarnya.
Natasya menjelaskan aksi antisipatif merupakan tindakan yang dilakukan sebelum dampak terburuk bencana terjadi berdasarkan prakiraan atau analisis risiko.
Menurut dia, pendekatan tersebut perlu diperkuat dengan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) melalui penyediaan data mengenai kebutuhan kelompok rentan di wilayah berisiko bencana.
Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menyiapkan stok bantuan, perlengkapan kesehatan reproduksi, kebutuhan bayi, ibu hamil dan ibu menyusui, serta alat bantu mobilitas sebelum bencana terjadi.
Selain itu, Natasya mendorong peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan simulasi bencana agar warga memahami rute evakuasi, pusat rujukan pelayanan kesehatan, serta lokasi pengungsian.
Informasi peringatan dini juga perlu dipastikan dapat dipahami dan ditindaklanjuti masyarakat, termasuk melalui sosialisasi aplikasi risiko bencana seperti Info BMKG.
People-centered
Peneliti kebencanaan dari Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Gusti Ayu Surtiari mendorong pendekatan yang menempatkan kebutuhan, kesejahteraan, dan pengalaman manusia (people-centered) dalam penanganan masyarakat terdampak bencana.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!