Arungi Laut dengan Perahu Layar Sangiang dan Eksotisme Savana Tambora lewat 'Sport Tourism' Gerakkan Ekowisata Alam
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 19:49 WIB | Oleh: OpikGunung Tambora bukan sekadar latar tempat untuk kegiatan olahraga. Gunung berapi di Pulau Sumbawa ini menyimpan sejarah erupsi dahsyat pada April 1815—salah satu letusan terbesar dalam sejarah dunia yang membentuk kaldera raksasa ikonik. Kekayaan sejarah, ekosistem, serta kebudayaan masyarakat di sekitarnya menjadikan Tambora memiliki daya tarik yang begitu memikat.
Antusiasme peserta dan pendamping pun berimbas langsung pada perputaran ekonomi warga lokal, mulai dari tingginya permintaan bahan pangan, transportasi, penginapan, jasa pemandu (guide), hingga produk UMKM.
Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Abdul Azis Bakry, menyampaikan bahwa acara olahraga ini menjadi sarana efektif untuk mengenalkan Tambora sekaligus memicu peluang usaha warga.
“Dampak langsungnya memang terasa saat acara berlangsung. Namun untuk jangka panjang, kami berharap ini memicu pengembangan kawasan, agrowisata, dan usaha masyarakat yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh Stekhen, pemilik Coffeezone yang membuka kedai kopi khas Tambora di lokasi acara. Dengan modal bahan baku sekitar Rp1 juta, seluruh dagangannya ludes bahkan sebelum hari berganti.
“Penjualannya sangat bagus, tidak sampai sehari sudah habis. Modal awal yang kami siapkan sekitar Rp1 juta bisa menghasilkan omset hingga Rp2 jutaan,” tuturnya.
Ia berharap acara serupa terus rutin digelar agar semakin banyak pelaku UMKM dan ekonomi kreatif yang merasakan dampaknya.
Di sisi lain, kategori 40K Sea to Summit menjadi magnet utama karena menyajikan tantangan ekstrem bagi para pelari, mulai dari garis pantai hingga ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Daya tarik paling ikonik adalah kombinasi lintasannya, dimulai dari 0 mdpl hingga menembus sekitar 2.000 mdpl,” tambah Abdul Azis.
Ia juga mengungkapkan rencana pengelola untuk mengintegrasikan potensi Teluk Saleh, kawasan agrowisata, dan kaldera Tambora ke dalam satu rantai perjalanan wisata yang terpadu.
Kesan yang dibawa pulang
Peserta Tambora Jungle Run berdatangan dari berbagai penjuru, mulai dari Jakarta, Jawa, Bali, Sulawesi, NTT, hingga berbagai daerah di NTB seperti Bima dan Dompu.
Dua pelari asal Sembalun, Lombok Timur, berhasil menembus podium di kategori 40K. Zandi Holikin menyabet juara pertama dengan catatan waktu 5 jam 29 menit 50 detik, sementara Nopa Putra yang baru berusia 17 tahun mengamankan posisi ketiga dengan waktu 7 jam 15 menit 21 detik. Bagi Nopa, ini merupakan podium trail run pertamanya sekaligus kompetisi perdana di luar Pulau Lombok.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!