Perang Iran Bikin AS Kekurangan Amunisi, Pentagon Akui Stok Strategis Menipis
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 19:20 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SWASHINGTON DC - Amerika Serikat (AS) menghadapi kekurangan amunisi akibat perang melawan Iran, demikian dikonfirmasi Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS pada Senin (14/9), yang bertentangan dengan pernyataan Presiden Donald Trump bahwa persediaan amunisi negaranya mencukupi.
Dalam laporan wajib pertama mengenai operasi tersebut kepada Kongres, inspektur jenderal menyatakan bahwa antara 28 Februari dan 30 Juni, Operasi Epic Fury (OEF) diperkirakan menelan biaya 33,4 miliar dolar AS, termasuk 22,3 miliar dolar AS untuk amunisi yang telah digunakan.
"Pengeluaran amunisi untuk OEF telah mengakibatkan kekurangan persediaan strategis dan mengungkap hambatan basis industri untuk pasokan ulang amunisi," kata laporan tersebut.
OEF merupakan sebutan AS untuk kampanye bersama Israel yang bertujuan "menghancurkan kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan militer", menurut Komando Pusat AS (CENTCOM).
Untuk mengatasi kekurangan dan keterlambatan pasokan, Pentagon "berupaya untuk menyederhanakan proses pengadaan dan waktu tunggu produksi, serta untuk menimbun material, komponen, dan amunisi tertentu yang penting," kata laporan itu.
Namun, laporan tersebut menyebut perluasan kapasitas produksi membutuhkan "waktu tunggu yang signifikan."
Kondisi itu kemungkinan menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara seperti Ukraina dan Taiwan yang bergantung pada pembelian senjata dari Amerika Serikat untuk menghadapi atau mencegah ancaman dari negara-negara tetangga yang jauh lebih besar.
Ukraina sangat membutuhkan lebih banyak rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot buatan AS dalam perang melawan Rusia. Sementara itu, Taiwan bergantung pada kesepakatan persenjataan dengan Washington untuk menghadapi Tiongkok, yang mengklaim pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut sebagai bagian dari wilayahnya.
Hampir Tak Terbatas
Trump berulang kali menepis kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan senjata selama enam bulan perang di Timur Tengah. Ia bahkan baru-baru ini mengatakan bahwa AS memiliki amunisi yang "hampir tak terbatas".
Pada Senin, Trump melalui platform Truth Social miliknya mengatakan AS memproduksi "senjata-senjata yang lebih canggih dan elit daripada kapan pun dalam sejarah kita."
CNN sebelumnya melaporkan bahwa kekurangan rudal berpemandu jarak jauh dan pencegat pertahanan udara telah memengaruhi strategi Trump dalam konflik dengan Iran. Militer AS disebut "hampir menghabiskan 80 persen" stok pencegat THAAD.
Menurut CENTCOM, selama 24 jam pertama perang melawan Iran, Amerika Serikat menyerang lebih dari 1.000 target. Namun, AS tidak kembali melakukan serangan skala besar dengan intensitas serupa dalam beberapa bulan berikutnya.
Laporan tersebut juga mengidentifikasi kerugian pada armada militer AS, termasuk empat pesawat tempur F-15 yang hancur, satu pesawat tempur F-35 yang rusak, tujuh pesawat tanker KC-135 yang rusak, serta hingga 30 pesawat nirawak MQ-9 Reaper yang hancur.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!