Guru Besar UI Soroti Laporan ADBI: Tantangan RI Bukan Kurang Tumbuh, Tapi Tak Produktif
📅 Kamis, 10 Sep 2026, 10:31 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA– Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Telisa Aulia Falianty, menyebut skor 0,44 dari Asian Development Bank Institute (ADBI) sebagai sinyal bahaya bagi Indonesia.
"Pada dasarnya Indonesia tidak kekurangan potensi pertumbuhan; yang menjadi persoalan adalah kemampuan mengubah pertumbuhan menjadi produktivitas dan nilai tambah yang berkelanjutan," ujar Telisa pada Koran Jakarta, Rabu (10/9).
Ia menegaskan skor 0,44 merupakan early warning bahwa Indonesia belum berada pada jalur yang cukup kuat untuk memastikan keluar dari middle-income trap.
"Ini early warning bahwa Indonesia belum berada pada jalur yang cukup kuat untuk memastikan keluar dari middle-income trap," tegas Telisa.
Menurut Telisa, tantangannya bukan sekadar mengejar pertumbuhan tinggi, termasuk target 8 persen. Pemerintah harus memastikan kualitas pertumbuhan itu mampu mendorong transformasi struktural.
"Tantangannya bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi memastikan transformasi struktural menghasilkan peningkatan produktivitas, nilai tambah, kualitas SDM, inovasi, dan penguatan institusi," jelasnya.
Ia menilai pertumbuhan tinggi tanpa transformasi struktural justru berisiko. "Pertumbuhan tinggi tanpa transformasi struktural berisiko hanya memperbesar output tanpa cukup meningkatkan kapasitas produktif ekonomi," kata Telisa.
Telisa sependapat dengan temuan ADBI yang menyebut transformasi struktural, kualitas institusi, dan political feasibility sebagai tiga faktor paling menentukan.
"Temuan ADBI menjadi penting karena menunjukkan bahwa transformasi struktural, kualitas institusi, dan political feasibility merupakan faktor yang sangat menentukan. Ini mempertegas bahwa agenda keluar dari middle-income trap bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga agenda reformasi institusi dan tata kelola pembangunan," ujarnya.
Karena itu, Telisa mendorong adanya pergeseran arah kebijakan. "Prioritas kebijakan perlu bergeser dari growth-oriented menjadi productivity-led growth, dengan reformasi struktural yang konsisten, feasible secara politik, dan mampu menjaga stabilitas, inklusivitas, serta keberlanjutan," tegasnya.
Ia juga mengingatkan ada pertanyaan fundamental yang harus dijawab pemerintah. "Apakah Indonesia memiliki kapasitas struktural dan institusional untuk mengubah pertumbuhan tinggi menjadi produktivitas dan kesejahteraan yang berkelanjutan," kata Telisa.
Pada akhirnya, kata dia, keberhasilan tidak diukur dari seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi. "Ukuran keberhasilan akhirnya bukan hanya seberapa tinggi ekonomi tumbuh, tetapi sejauh mana pertumbuhan tersebut menghasilkan pekerjaan yang layak, meningkatkan produktivitas dan nilai tambah domestik, memperluas kesejahteraan, serta memastikan sustained, inclusive and sustainable economic growth dan prinsip leave no one behind," pungkas Telisa.
Data ADBI: Skor RI 0,44
Pernyataan Telisa merespons laporan ADBI yang dirilis dalam konferensi bersama Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Rabu (9/9).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!