NASA Soroti Karhutla Indonesia, Citra Satelit Ungkap Kebakaran Meluas di Kalimantan
📅 Jumat, 04 Sep 2026, 21:56 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SWASHINGTON DC – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menjadi perhatian National Aeronautics and Space Administration (NASA). Lembaga antariksa Amerika Serikat itu memantau perkembangan kebakaran melalui citra satelit yang menunjukkan kepulan asap dan titik panas tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan.
Dalam laporan yang diterbitkan Kamis (3/9), NASA Earth Observatory menampilkan citra satelit Aqua yang merekam kondisi kebakaran di Kalimantan pada 1 September. Citra tersebut memperlihatkan kepulan asap berwarna abu-abu dari sejumlah lokasi kebakaran, terutama di bagian selatan pulau.
Dari NASA Science, NASA menggunakan instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada satelit Aqua untuk mendeteksi anomali panas yang mengindikasikan adanya kebakaran. Dalam citra NASA, titik-titik merah menunjukkan lokasi deteksi api.
NASA menjelaskan, satu deteksi api merupakan piksel yang oleh sensor dan algoritma diidentifikasi memiliki anomali panas yang mengindikasikan kebakaran. Satu kebakaran dapat menghasilkan lebih dari satu deteksi.
Kebakaran terjadi di permukaan hingga bawah tanah
NASA menyoroti kondisi lahan gambut Indonesia yang menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla. Indonesia disebut memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia.
Ketika mengalami kekeringan, gambut yang biasanya basah dapat terbakar hingga ke lapisan bawah permukaan. Kebakaran bawah tanah ini dapat terus berlangsung meski api di permukaan tidak terlihat.
"Ketika kebakaran masuk ke bawah tanah, api tidak akan berhenti. Api akan terus membakar sampai hujan turun," kata Robert Field, peneliti Columbia University yang mengembangkan Global Fire Weather Database, seperti dikutip NASA.
NASA juga mencatat Indonesia baru sekitar tiga pekan memasuki musim kebakaran ketika aktivitas api mulai meningkat tajam pada awal September. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan kekeringan luas dan penguatan fenomena El Niño.
Sekitar 90 persen wilayah Indonesia mengalami sedikit atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus 2026, berdasarkan data yang dikutip NASA dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi kering tersebut meningkatkan risiko kebakaran, termasuk pada kawasan gambut di Kalimantan dan Sumatra.
NASA sebut pola aktivitas api mulai menyerupai 2015
Field mengatakan peningkatan aktivitas kebakaran pada 2026 mulai menunjukkan pola yang mengingatkan pada kondisi 2015, ketika Indonesia mengalami salah satu musim kebakaran terparah dalam beberapa dekade.
"Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi kami melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan 2015," kata Field.
Meski demikian, NASA menyebut kebakaran 2026 hingga awal September belum mencapai skala emisi seperti 2015. Hingga 2 September, kebakaran 2026 diperkirakan menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari emisi kebakaran Indonesia pada 2015.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!