Saat Para Penulis yang Tergabung di Alinea “Goes To Campus” UI Bicara soal Kecerdasan Buatan hingga Masalah Makanan
📅 Kamis, 03 Sep 2026, 08:22 WIB | Oleh: SriyonoLiterasi vs Politik?
Kanti W. Janis membawa percakapan ke wilayah yang lebih politis. Ia mengingatkan bahwa kegiatan menulis dan literasi tidak pernah sepenuhnya terlepas dari politik.
Apa yang ditulis, pengalaman siapa yang diberi ruang, suara mana yang diperdengarkan, hingga persoalan apa yang dianggap penting untuk dibicarakan selalu memiliki konteks sosial dan politik.
Karena itu, Kanti menekankan pentingnya keberanian untuk tetap membela Indonesia sekaligus mengembangkan keterampilan menulis sebagai jembatan untuk menyuarakan ketidakadilan.
Pengalamannya membangun Baca Di Tebet (BDT) serta inisiatif penerbitan Sebermula memperlihatkan bagaimana kerja literasi dapat menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, masyarakat, dan keberanian menyampaikan gagasan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagi Kanti, kemampuan menulis perlu terus diasah agar penulis tidak hanya mampu menghasilkan karya, tetapi juga memiliki perangkat untuk membaca persoalan dan menyampaikan suara dengan lebih kuat.
Makanan sebagai Arsip Kebudayaan
Dari politik literasi, Heni Pridia membawa peserta pada sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan.
“Makanan itu selalu terkait erat dengan sejarah dan kebudayaannya.”
Menurut akademisi dari Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI ini, makanan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah, identitas, kebiasaan, dan pengetahuan suatu masyarakat. Perspektif tersebut berangkat dari pengalamannya sebagai pemerhati kuliner sekaligus pengajar di bidang pendidikan, hospitaliti, dan pariwisata.
Menulis, bagi Heni, membutuhkan kesadaran untuk mencatat pengetahuan yang hidup di sekitar kita. Banyak pengetahuan hadir melalui praktik keseharian dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika tidak dicatat, pengetahuan tersebut berisiko hilang bersama perubahan kehidupan masyarakat.
Membaca untuk Latihan Berpikir
Kurnia Effendi, sastrawan yang dikenal melalui karya-karya prosanya, mengajak peserta kembali pada aktivitas dasar seorang penulis: membaca.
Para penulis, menurut Kurnia, membaca melampaui batas usia. Membaca menjadi latihan untuk berjumpa dengan gagasan, pengalaman, dan dunia yang lebih luas daripada pengalaman pribadi.
Kemampuan berpikir pun perlu dilatih terus-menerus. Dalam proses itu, menulis menjadi salah satu cara untuk menguji bagaimana seseorang memahami kehidupan dan menyusun kembali hasil perjumpaannya dengan berbagai pengetahuan.
Sementara itu, dalam sesi berikutnya, Nuria Soeharto berbicara tentang memoar dan pengalaman menerbitkan karya secara mandiri. Penulis yang jug lulusan PhD dari Université de Paris-8, Prancis ini mengisahkan bagaimana perjalanan hidupnya, termasuk belasan tahun menetap di Eropa,sebelum kembali ke tanah air untuk merawat ibundanya yang mengalami demensia, menjadi sumber pengalaman yang kemudian diolah menjadi bahan bakar kreatif untuk merumuskan sejumlah karya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!