Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Saat Para Penulis yang Tergabung di Alinea “Goes To Campus” UI Bicara soal Kecerdasan Buatan hingga Masalah Makanan

📅 Kamis, 03 Sep 2026, 08:22 WIB | Oleh:
Saat Para Penulis yang Tergabung di Alinea “Goes To Campus” UI Bicara soal Kecerdasan Buatan hingga Masalah Makanan Doc: istimewa
Ket. Pertemuan para penulis bertajuk “Penulis di Tengah Perubahan” yang digelar Perkumpulan Penulis Indonesia Alinea di Ruang Apung Perpustakaan Universitas Indonesia pada Rabu, (2/9).

DEPOK - Ruang Apung Perpustakaan Universitas Indonesia siang itu menjadi ruang perjumpaan antara penulis, pengetahuan, dan perubahan zaman. Para penulis berbicara tentang kecerdasan buatan, politik literasi, makanan dan kebudayaan, kebiasaan membaca, memoar, hingga masa depan profesi penulis.

Pertemuan bertajuk “Penulis di Tengah Perubahan” ini digelar Perkumpulan Penulis Indonesia Alinea pada Rabu, (2/9), sebagai bagian dari rangkaian Road to Munas Alinea 2026. Acara dirancang dalam format Sesi Gagasan Penulis: setiap pembicara menyampaikan satu gagasan utama selama sepuluh menit tanpa presentasi PowerPoint, kemudian percakapan dibuka bersama peserta.

Kepala Perpustakaan Universitas Indonesia, Luluk Tri Wulandari, S.S., M.Hum., menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi kehadiran para penulis di Ruang Apung, Perpustakaan Universitas Indonesia dan menyampaikan terima kasih kepada para penulis yang telah hadir untuk berbagi gagasan dengan sivitas akademika.

Pertemuan selanjutnya dibuka Deasy Tirayoh. Direktur Eksekutif Alinea ini menjelaskan bahwa program Alinea Goes to Campus menjadi penutup rangkaian Sarasehan Dalam Jaringan (SADARING) Alinea, yang sebelumnya menghadirkan berbagai percakapan dengan penulis, akademisi, antropolog, komikus, pegiat kebudayaan, serta sastrawan.

“Setelah ini kita akan masuk ke acara puncak, yaitu Munas Alinea pada 5–6 September yang akan dilaksanakan di Komunitas Utan Kayu,” ujar Deasy.

Wien Muldian, yang turut memberikan sambutan pun menyampaikan bahwa Alinea terbuka bagi penulis dari berbagai genre sekaligus mereka yang bekerja dalam proses produksi industri kepenulisan, termasuk editor, ilustrator, dan profesi lain yang ikut membuat karya sampai kepada pembaca.

Moderator Stebby Julionatan kemudian mengarahkan lima sesi gagasan yang disampaikan narasumber antara lain: Maman Suherman, Kanti W. Janis, Heni Pridia, Kurnia Effendi, dan Nuria Soeharto. Kelimanya datang dari pengalaman yang berbeda, tetapi percakapan mereka bertemu pada satu persoalan tentang bagaimana penulis mempertahankan daya pikir dan relevansinya ketika lingkungan tempat manusia membaca, menulis, dan memproduksi pengetahuan terus berubah.

Tak lupa, Stebby mengundang Achmad Fachrodji untuk berkenan menjadi penanggap dari sesi ini.

Kecerdasan Imitasi dan Suara Personal 

Maman Suherman membuka percakapan dengan menempatkan pegiat literasi sebagai bagian dari rantai pewarisan pengetahuan.
“Pegiat literasi adalah pewaris pengetahuan. Dengan demikian, kiranya kita perlu memiliki keberanian untuk terus berpikir, mempertanyakan apa yang kita terima, dan menemukan suara kita sendiri di tengah perubahan teknologi,” ungkap alumnus Kriminologi UI ini.

Selanjutnya, Maman juga tak ayal melihat perkembangan AI dengan perhatian pada sesuatu yang lebih dalam daripada kemampuan mesin menghasilkan teks. Kemudahan tersebut berpotensi membuat suara personal semakin samar. Bersamaan dengan itu, keberanian untuk mengakui ketidaksempurnaan dan keberanian berpikir dengan kemampuan sendiri ikut menghadapi tantangan.

Penulis puluhan karya buku ini juga mengajak peserta melihat persoalan kualitas secara lebih kritis. Kemampuan seorang penulis tidak lahir dalam ruang yang seragam. Akses terhadap buku, pendidikan, sumber pengetahuan, dan sumber daya turut menentukan kesempatan seseorang mengembangkan kemampuan.

Pertanyaan tentang kualitas kemudian muncul dari peserta. Abdul Rahman, mahasiswa Magister Filologi Universitas Indonesia, mempertanyakan mengapa penulis dan penulisan pada masa lalu dianggap memiliki daya dan kemampuan yang lebih baik, sementara kualitas tulisan hari ini dinilai mengalami penurunan.

Pertanyaan tersebut memperluas diskusi bahwasanya kualitas tulisan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individual, tetapi juga dengan lingkungan yang membentuk kebiasaan membaca, berpikir, dan menulis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pelumasan Sintetis Dorong Produktivitas dan Daya Saing Industri Plastik
    Informasi spesifik mengenai penghematan konsumsi energi hingga 10 ...
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
  • Pria tanpa identitas Tewas Tersengat Listrik saat Curi Kabel LRT
    Wajar sih kalau mati, justru aneh klo tidak ...
  • Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
    Meskipun data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 ...
Advertisement
kai-expo-detail-sidebar
Megapolitan
Cara Mengembangkan Destinas...
Nasional
Kementerian PU Tangani Ruma...
Ekonomi
Dibayangi Tekanan Ganda - 0...
Advertisement
Bye-Bye Calo! Kemen ATR/BPN Pangkas Urus Peralihan Hak Tanah Cuma 10 Hari!

Bye-Bye Calo! Kemen ATR/BPN Pangkas Urus Peralihan Hak Tanah Cuma 10 Hari!

03 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.