Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dibayangi Tekanan Ganda - 03 September 2026

📅 Kamis, 03 Sep 2026, 08:15 WIB | Oleh:
Dibayangi Tekanan Ganda - 03 September 2026 Doc: Istimewa

JAKARTA – Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif kare na pasar menghadapi tekanan dari dua arah.

Pernyataan hawkish petinggi bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed berpotensi memperkuat dollar AS dan mendorong investor kembali memburu aset berdenominasi dolar.

Di sisi domestik, peningkatan inflasi dapat memper sempit ruang pelonggaran moneter, sehingga sentimen terhadap rupiah tetap rentan.

Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah berpotensi volatil sambil menunggu arah kebijakan The Fed dan perkembangan inflasi dalam negeri.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat retorika keras Gubernur The Fed Kevin Warsh me ngenai inflasi dalam Simposium Jackson Hole kembali menghidupkan spekulasi kenaikan suku bunga AS.

Dari dalam negeri, meningkatnya inflasi pangan menjadi perhatian karena tekanan tersebut berpotensi masih menghantui daya beli masyarakat ke depan.

Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Kamis (3/9), bergerak fluktuatif di kisaran 17.760 - 17.800 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (2/9), bergerak melemah 19 poin atau 0,11 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.763 rupiah per dollar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan imbal hasil Treasury AS.

“Rupiah masih menghadapi tekanan dari penguatan dollar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury AS di tengah meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih ketat,” ujarnya di Jakarta.

Kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, juga dinilai menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.

Melihat sisi domestik, sentimen terhadap rupiah be rasal dari rilis PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus yang kembali berada di zona kontraksi di level 49,8.

Angka ini menunjukkan aktivitas manufaktur masih menghadapi tekanan, sehingga menjadi salah satu sentimen negatif terhadap rupiah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Megapolitan
Pemkab Bekasi Bentuk TP2D A...
Megapolitan
Tangsel Otozone Jadi Sarana...
Advertisement
10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

16 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.