Runtuhnya Gletser Raksasa Jadi Bom Waktu Negara-negara di Kaki Himalaya
📅 Kamis, 03 Sep 2026, 01:23 WIB | Oleh: Deri HenriawanISTANBUL - Bencana banjir bandang dan longsor dahsyat di perbatasan Nepal-Tiongkok seharusnya menjadi peringatan bagi negara-negara kawasan Himalaya, terutama terkait pembangunan bendungan besar di wilayah pegunungan yang rawan bencana.
“Bencana seperti itu pasti akan selalu terjadi di lingkungan gletser yang dinamis dan aktif secara seismik di Himalaya dan Karakoram yang tinggi,” kata Daanish Mustafa, profesor geografi kritis di King’s College London, kepada Anadolu.
Peringatan itu disampaikan Mustafa saat operasi pencarian hampir 4.500 orang yang hilang masih berlangsung.
Jumlah korban tewas akibat bencana pada 26 Agustus itu telah mencapai 1.130 orang pada Rabu (2/9), atau sepekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang wilayah perbatasan kedua negara.
Bencana terjadi setelah gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, retak pada ketinggian sekitar 5.200 meter yang memicu longsoran es dan batu yang berkembang menjadi aliran material besar dan menerjang lembah di sepanjang perbatasan.
Arus air dan lumpur menghancurkan sejumlah wilayah Nepal, termasuk Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, dan Lembah Kathmandu. Di sisi Tiongkok, material longsor mengubur pos perbatasan Gyirong di Tibet barat daya.
“Ini adalah insiden yang sangat disayangkan dan, sayangnya, tidak dapat dicegah,” ujar Mustafa.
Di sisi Nepal, sebanyak 3.916 orang masih dilaporkan hilang. Dari jumlah tersebut, 639 orang merupakan personel yang ditempatkan di berbagai proyek pembangkit listrik tenaga air di negara itu.
“Bendungan di pegunungan tinggi justru memperbesar dan memperparah kerusakan akibat kejadian seperti ini. Ini harus menjadi peringatan bagi semua negara, terutama India, Tiongkok, dan Pakistan yang sedang membangun bendungan besar di kawasan tersebut,” kata Mustafa.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Rabu (2/9), menyatakan bencana tersebut “disebabkan ketidakstabilan gletser akibat dampak jangka panjang dari pemanasan iklim.”
“Longsoran es dan batu terjadi di sebuah gletser di Nepal, meluncur dengan cepat menuruni lereng dan mengikis sisi gunung, yang kemudian memicu bencana,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun kepada wartawan di Beijing.
Mustafa mengatakan klaim resmi dari Tiongkok dan Nepal itu untuk sementara perlu menjadi acuan hingga penilaian ilmiah independen tersedia.
“Pada saat ini, kita harus mengikuti klaim resmi Tiongkok dan Nepal sampai penilaian ilmiah independen tersedia, yang mungkin masih membutuhkan waktu,” katanya.
Menurut Mustafa, langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi bencana semacam itu antara lain edukasi publik, latihan evakuasi, infrastruktur komunikasi yang efektif, dan pemantauan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!