PM Nepal Balen Hadapi Ujian Terberat Usai Bencana Gletser Tewaskan 1.000 Orang
📅 Rabu, 02 Sep 2026, 13:25 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SKathmandu – Perdana Menteri Nepal yang sebelumnya dikenal sebagai rapper, Balendra Shah, enam bulan lalu berhasil meraih kekuasaan dengan janji reformasi. Namun, pemerintahan mudanya kini menghadapi ujian terberat setelah runtuhnya gletser memicu bencana dahsyat, menurut para analis.
Gelombang besar air dingin dan material longsoran menewaskan lebih dari 1.000 orang dan menyebabkan hampir 4.500 orang masih hilang. Pemerintah Kathmandu memperingatkan biaya rekonstruksi dapat mencapai "miliaran dolar AS".
Negara Himalaya tersebut memiliki sumber daya terbatas untuk menghadapi kehancuran dalam skala sebesar itu. Bencana ini sekaligus menjadi peringatan keras mengenai rapuhnya lingkungan pegunungan Nepal di tengah dunia yang semakin memanas akibat perubahan iklim.
Namun, bencana pada 26 Agustus itu juga terjadi hanya beberapa hari menjelang peringatan satu tahun aksi protes antikorupsi yang digerakkan kaum muda pada 8-9 September tahun lalu. Demonstrasi tersebut menggulingkan pemerintahan sebelumnya.
Perdana Menteri Balendra Shah, 36 tahun, yang sebelumnya menjabat sebagai wali kota Kathmandu dan dikenal luas dengan julukan "Balen", memenangkan pemilu pada Maret melalui gelombang antusiasme publik serta janji perubahan politik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, sejak menjabat, Shah relatif jarang tampil di depan publik. Ia kerap terlihat mengenakan setelan hitam dengan kacamata hitam dan lebih banyak menyampaikan komunikasi melalui media sosial.
Beberapa jam setelah banjir melanda, Shah mengunggah pesan yang menyerukan agar masyarakat "bersatu". Ia juga telah mengunjungi sejumlah wilayah yang terdampak bencana.
Namun, satu pekan setelah bencana paling mematikan di Nepal sejak gempa 2015, Shah masih belum menyampaikan pidato secara terbuka kepada seluruh bangsa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ujian Besar Pertama
Banyak pihak menilai skala bencana yang sangat besar membuat pemerintah mana pun akan kesulitan menangani operasi pencarian, penyelamatan, dan bantuan.
"Pemerintah ini mungkin belum berpengalaman, tetapi mereka telah melakukan yang terbaik," kata Prakash Aryal, yang tengah mencari saudara perempuan dan keluarganya di kamar jenazah, kepada AFP di sebuah rumah sakit di Kathmandu.
"Pemerintahan sebelumnya bahkan tidak mau menerima telepon, tetapi kali ini ada petugas di mana-mana yang membantu orang seperti kami."
Pemerintahan Shah mengatakan mereka berupaya memberikan respons terbaik dalam kondisi yang sangat sulit.
"Tentu saja, dengan skala bencana seperti ini, akan selalu ada wilayah yang masih perlu kami perbaiki," kata Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal kepada AFP.
"Namun, kami mendengarkan masyarakat dan jika ada tantangan lain yang harus kami atasi, kami akan terus memastikan bahwa kami memberikan kinerja terbaik sesuai dengan tantangan yang dihadapi."
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!