IHSG Melemah akibat Tertekan Kenaikan Harga Minyak Mentah
📅 Rabu, 02 Sep 2026, 10:54 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi bergerak melemah mengikuti bursa kawasan Asia dan global, akibat tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah.
Dibuka menguat, IHSG pukul 09.50 WIB bergerak melemah 37,34 poin atau 0,57 persen ke posisi 6.562,60.Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 4,61 poin atau 0,70 persen ke posisi 649,80.
"Jika IHSG mampu bertahan di atas 6.635, maka berpeluang akan menutup gap di 6.705. Jika tidak, diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran 6.535-6.635,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (02/9).
Dari mancanegara, harga minyak mentah global dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan pada perdagangan Selasa (01/09).
Harga minyak ditutup naik hampir 5 persen pada Selasa (01/9), seiring meningkatnya ketegangan politik antara AS dengan Iran. Sedangkan U.S. 10-year Bond Yield naik lebih dari 3 bps di level 4,792 persen, akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.
Sementara itu, data ekonomi AS menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang melambat namun secara keseluruhan tetap tangguh, sehingga probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 sekitar 68 persen.
Data Job Openings menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS pada Juli 2026 tercatat sebanyak 7,27 juta dari sebelumnya 7,18 juta pada Juni 2026, namun lebih rendah dari perkiraan sebesar 7,33 juta.
Adapun, tekanan jual terhadap obligasi pemerintah AS dan pasar obligasi utama lainnya semakin intensif pada Selasa (01/9), dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran mengenai inflasi dan utang fiskal.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan, mencapai level tertinggi sejak November 2023, sementara imbal hasil tenor 2 tahun menyentuh level tertinggi sejak Juli 2024.
Sementara itu, imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun mencapai level 3 persen untuk pertama kalinya sejak Agustus 1996, imbal hasil obligasi Jerman tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Maret 2011, dan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris dengan tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Juli 2007.
Dari dalam negeri, data inflasi domestik meningkat menjadi 3,19 persen year on year (yoy) pada Agustus 2026, dari sebelumnya 2,88 persen (yoy), yang didorong oleh kenaikan harga makanan, transportasi dan kenaikan inflasi inti di level 2,96 persen (yoy) dari sebelumnya 2,76 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.
Indeks manufaktur PMI kembali mengalami kontraksi du level 49,8 pada Agustus 2026 dari sebelumnya di level 50,2 pada Juli 2026. Meskipun berada pada area kontraksi, namun masih lebih baik dibandingkan posisi pada bulan April dan Juni 2026.
Sementara di luar dugaan, neraca perdagangan mencapai surplus 0,13 miliar dolar AS pada Juli 2026, setelah selama dua bulan berturut-turut mencatatkan defisit.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada 2027. Untuk mencapai sasaran tersebut, pertumbuhan investasi perlu dipercepat hingga 7 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!