BRIN Kembangkan Sistem Monitoring Air Tanah untuk Kurangi Risiko Karhutla di Lahan Gambut
📅 Selasa, 01 Sep 2026, 13:18 WIB | Oleh: SriyonoJAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem monitoring air tanah atau Ground Water Level (GWL) untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya pada lahan gambut.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Albertus Sulaiman dalam keterangan di Jakarta, Selasa mengatakan sistem tersebut digunakan untuk memantau kondisi air di kawasan gambut dan mengidentifikasi perubahan yang dapat menjadi indikator meningkatnya risiko kebakaran sekaligus monitoring emisi karbon yang dihasilkan dari kawasan gambut.
"GWL dapat digunakan sebagai early warning system untuk mengetahui kapan lahan mulai berpotensi terbakar," katanya.
Albertus menyoroti pemantauan air tanah menjadi penting untuk mengurangi risiko, sebab perubahan GWL dapat memberikan informasi awal mengenai potensi terjadinya kebakaran. Ketika tinggi muka air tanah mendekati atau melewati titik kritis tertentu, indikasi asap dapat terdeteksi setelahnya.
Ia menyebut data yang diperoleh dapat menjadi dasar untuk memahami perubahan kondisi hidrologi gambut dan mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan lahan.
Menurut Albertus, hasil penelitian terbaru BRIN menunjukkan bahwa hutan rawa gambut berperan dalam modulasi hujan lokal sehingga menunjukkan pentingnya dalam ketahanan iklim.
Ekosistem ini mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar, menjaga keseimbangan tata air, serta berkontribusi terhadap pembentukan hujan lokal melalui proses alami di dalam ekosistemnya.
"Karena itu, menjaga gambut tetap basah dan sehat tidak hanya penting untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk mempertahankan fungsi ekologisnya. Pengkajian hutan rawa gambut adalah pendekatan multi disiplin dan harus menjadi kerjasama berbagai pusat riset di BRIN," ujar Albertus.
Di samping itu, Albertus menggarisbawahi kondisi air menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat kerentanan lahan gambut terhadap kebakaran. Secara alami, gambut memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar. Ketika gambut mengalami pengeringan, risiko kebakaran meningkat.
Ia menilai pengelolaan lahan untuk kebutuhan budidaya juga dapat mendorong pembangunan kanal. Pada kawasan perkebunan, misalnya, kanal digunakan untuk mengatur tata air.
Namun, apabila pengaturan tersebut menyebabkan muka air tanah turun terlalu rendah, gambut menjadi lebih kering dan lebih rentan terbakar.
"Mengapa lahan gambut bisa terbakar? Karena lahan gambut sangat kering. Ketika kondisi gambut kering, air tidak lagi cukup untuk menjaga kelembapannya," ucap Albertus Sulaiman.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!