Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bisnis Madu Tawarkan Ekonomi Riau Tanpa Tebang Hutan

📅 Rabu, 23 Sep 2026, 23:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bisnis Madu Tawarkan Ekonomi Riau Tanpa Tebang Hutan Doc: ANTARA/Afut Syafril.
Ket. Pengusaha madu Leni Lestiarini memeriksa koloni lebah Trigona di pekarangan rumahnya.

PEKANBARU – Embun pagi belum sepenuhnya hilang ketika desir angin yang menyisir rerimbunan terpecah oleh kepakan kecil yang beterbangan. Dengung lebah mulai terdengar dari sela-sela pepohonan.

Di antara hamparan hutan dan tanaman akasia di Riau, suara itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghidupan dari usaha madu.

Dari nektar bunga yang dikumpulkan lebah, dihasilkan madu yang kemudian menjadi sumber usaha. Dari usaha itu pula tumbuh kesadaran untuk mempertahankan hutan yang menjadi sumber pakan lebah.

Mereka memanfaatkan hasil hutan tanpa menebang pohon atau membuka lahan dengan api. Lebah dipelihara, madu dipanen, sementara vegetasi tetap dipertahankan sebagai sumber makanan bagi koloni.

Salah satu pelaku usaha tersebut adalah Leni Lestiarini, pengusaha madu yang berhasil membawa produk madu Riau menembus pasar Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.

Perjalanan itu tidak berlangsung singkat. Usaha tersebut bermula dari kegigihan almarhum suaminya, Purnomo, yang ketika itu bekerja sebagai peneliti lebah pada Dinas Kehutanan Provinsi Riau di Pekanbaru.

Pekerjaan Purnomo mempertemukannya dengan banyak kelompok petani lebah. Ia datang, berdiskusi, mencatat, meneliti, dan melihat langsung bagaimana masyarakat menggantungkan penghidupan dari koloni-koloni lebah di sekitar hutan.

Dalam satu kali panen, kelompok petani yang ditemuinya bahkan mampu mengumpulkan madu hingga sekitar 260 ton. Jumlah tersebut menjadi peluang ekonomi, tetapi muncul persoalan bagaimana memasarkannya.

Madu tersedia dalam jumlah besar, sementara akses pasar belum sebanding dengan kemampuan produksi para petani.

Purnomo dan Leni kemudian membantu memasarkan hasil panen tersebut melalui produk madu Wilbi. Upaya itu perlahan membuka jalan bagi madu hasil produksi petani untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Menurut Leni, usaha tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemasaran madu, tetapi juga dengan petani yang memelihara lebah dan lingkungan yang menyediakan sumber pakan bagi koloni.

Di rumahnya, Leni bahkan membiarkan sejumlah koloni lebah alami jenis Trigona tetap berkembang.

Lebah tanpa sengat tersebut memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil dibandingkan jenis lebah madu lain seperti Apis mellifera. Mereka hidup dalam koloni dan menghasilkan madu serta produk lebah lainnya, termasuk propolis.

Koloni-koloni itu tidak semata dipelihara untuk dipanen. Leni sengaja membiarkannya berkembang sebagai bagian dari sarana edukasi bagi tamu atau masyarakat yang ingin belajar mengenai lebah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
Advertisement
Ochi Rosdiana dan Jeff Smith Ungkap Pengalaman Mistis di Balik Film Lingsir Wengi: Motel Malioboro

Ochi Rosdiana dan Jeff Smith Ungkap Pengalaman Mistis di Balik Film Lingsir Wengi: Motel Malioboro

13 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.