Era Suku Bunga Tinggi AS Jadi Ujian Ketahanan Kebijakan Ekonomi Nasional
📅 Kamis, 20 Agu 2026, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Ketika kebutuhan penerbitan surat utang meningkat, kenaikan yield berpotensi memperbesar beban bunga dan mempersempit ruang fiskal bagi belanja pembangunan,” katanya.
Risiko makin serius karena harga minyak diasumsikan 75 dollar AS per barel, sementara lifting minyak hanya 610 ribu barel per hari.
Kombinasi pelemahan rupiah dan harga energi itu dapat meningkatkan tekanan subsidi, kompensasi, serta defisit fiskal.
Ia pun menekankan respons pemerintah tidak boleh berhenti pada stabilisasi rupiah atau pengendalian inflasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kebijakan fiskal harus memperkuat penerimaan negara, memperbaiki kualitas belanja, mengendalikan ketergantungan utang, dan memastikan setiap tambahan pembiayaan menghasilkan kapasitas ekonomi baru,” tegas Badiul.
Ia memperingatkan jika tekanan eksternal dijawab dengan utang lebih besar, bunga tinggi, dan intervensi berulang, maka stabilitas jangka pendek justru dapat menciptakan kerentanan fiskal dan moneter jangka panjang.
Berisiko Terus Tertekan
Sebaiknya Anda baca juga:
Di kesempatan lain, pakar ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y.
Sri Susilo, mengatakan higher for longer akan menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia.
Tekanan terutama berpotensi muncul pada nilai tukar rupiah karena investor global cenderung menempatkan dananya pada aset berdenominasi dollar AS yang menawarkan imbal hasil menarik.
Tingginya suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) membuat aset berbasis dollar AS relatif lebih menarik dibandingkan aset dalam mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Jika suku bunga The Fed tetap tinggi, maka para investor global cenderung lebih memilih investasi dalam dollar AS ketimbang mata uang domestik, termasuk rupiah,” kata Sri Susilo, Rabu (19/8).
Kondisi tersebut dalam jangka panjang akan membuat rupiah cenderung melemah terhadap dollar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!