Bencana Iklim dan Krisis Energi Bebani Fiskal
📅 Rabu, 19 Agu 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
Pengelolaan Anggaran - Kebergantungan pada Energi Fosil Masih Sangat Besar di RAPBN 2027
Percepatan peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan penting untuk mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus memperkuat kedaulatan energi Indonesia
JAKARTA – Perubahan iklim dan ketegangan geopolitik menciptakan tekanan ganda bagi ketahanan fiskal Indonesia. Di satu sisi, meningkatnya risiko bencana akibat kenaikan suhu global menuntut belanja negara lebih besar untuk mitigasi, penanganan, dan pemulihan. Di sisi lain, gejolak energi akibat gangguan Selat Hormuz dapat meningkatkan biaya impor, subsidi, serta kompensasi energi.
Direktur Program Iklim dan Transisi Berkeadilan Institute for Essential Services Reform (IESR), Agus Tampubolon menegaskan dampak perubahan iklim di Indonesia semakin nyata, ditandai meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologis serta pola cuaca yang tidak menentu yang mengganggu pola tanam dan musim di berbagai daerah.
Pada saat yang sama, konflik di Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir mendorong kenaikan harga minyak dan gas dunia. Kondisi tersebut turut menekan anggaran fiskal negara-negara importir energi, termasuk Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Percepatan peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara lain sekaligus memperkuat kedaulatan energi Indonesia,” ujar Agus dalam workshop Geo-Climate Risk yang digelar konsorsiumI IESR, Postdam Institute, dan GIZ di Jakarta, pekan lalu.
Menurutnya, perubahan pola iklim yang semakin masif membutuhkan mobilisasi sumber daya dalam skala besar untuk menjalankan solusi yang terbukti dapat mengendalikan laju perubahan iklim, salah satunya melalui pemanfaatan energi terbarukan. Penundaan mitigasi dinilai justru akan memperburuk dampak perubahan iklim sekaligus menggerus kapasitas fiskal negara. Namun, transisi energi juga membutuhkan pembiayaan dan investasi awal yang besar.
Temuan Potsdam Institute mengenai fenomena double cost crunch menunjukkan negara menghadapi tekanan ganda, yakni harus mengeluarkan biaya untuk menangani bencana iklim sekaligus menyediakan pendanaan bagi transisi energi. Berdasarkan skenario kebijakan saat ini atau Current Policy Ambition-NPI, pemanasan global diproyeksikan terus meningkat hingga 2100. Sementara itu, apabila dunia mengikuti target Persetujuan Paris, suhu masih meningkat hingga pertengahan abad sebelum berpotensi menurun pada tahun-tahun berikutnya.
“Kenaikan suhu global tidak hanya memicu cuaca ekstrem, tetapi juga menimbulkan capital damage dan menurunkan produktivitas pekerja. Dengan skenario SSP2, GDP Asia Tenggara diproyeksikan turun 4,8 persen pada 2100,” jelasnya.
Agus menilai aksi iklim bersifat net beneficial karena dalam jangka panjang biaya mitigasi lebih kecil dibandingkan biaya penanganan bencana apabila mitigasi tidak dilakukan dalam perencanaan pembangunan. Karena itu, langkah mitigasi yang dimulai sejak sekarang dinilai dapat menjadi fondasi bagi kapasitas ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Optimalkan EBT
Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa menyoroti RAPBN 2027 yang masih menempatkan target lifting minyak dan gas sebagai bagian dari strategi energi nasional, sebagaimana tercermin dalam pidato Presiden saat penyampaian Rancangan APBN 2027 di hadapan MPR, DPR, dan DPD pada 14 Agustus. Menurutnya, kebijakan tersebut penting untuk menjaga pasokan energi dalam jangka pendek, tetapi pemerintah juga perlu memberikan sinyal yang lebih kuat mengenai arah jangka panjang menuju sistem energi rendah karbon.
Fabby menilai kemandirian energi tidak cukup diukur dari peningkatan produksi energi domestik, tetapi juga dari kemampuan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang rentan terhadap volatilitas harga global. Dengan potensi energi surya, angin, panas bumi, hidro, dan biomassa yang besar, Indonesia dinilai memiliki peluang membangun sistem energi yang lebih aman, bersih, dan kompetitif.
“Percepatan energi terbarukan penting untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi sekaligus mendukung pertumbuhan kebutuhan energi,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!