Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

The Brink of War: Teror Psikologis Menjelang Kiamat Nuklir Dunia

📅 Minggu, 16 Agu 2026, 00:03 WIB | Oleh:

Riset Gunn terhadap peristiwa tersebut juga mendapat dukungan dari wawancara dengan George Shultz sebelum mantan menteri luar negeri itu meninggal pada 2021. Detail tersebut membantu film menghadirkan suasana yang cukup meyakinkan sebagai rekonstruksi sejarah.

Tetapi persoalannya tetap sama: realistis tidak selalu berarti menegangkan.

Film seperti Thirteen Days, All the President's Men, atau Argo mampu mengubah peristiwa politik dan sejarah menjadi tontonan yang membuat penonton terus menunggu keputusan berikutnya. The Brink of War memiliki bahan sejarah yang tidak kalah penting, tetapi ritmenya terlalu sering mengendur.

Judulnya menjanjikan dunia yang berada di ambang perang. Sinopsisnya juga menjanjikan perlombaan melawan waktu untuk menyelamatkan kesepakatan yang bisa membongkar persenjataan nuklir atau membawa dunia menuju bencana.

Namun, sensasi "berada di ambang" itu tidak selalu terasa.

Ironisnya, justru sejarah di balik film ini jauh lebih menegangkan daripada cara film menyampaikannya.

KTT Reykjavík memang gagal menghasilkan kesepakatan akhir pada 1986. Tetapi pertemuan tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam membangun hubungan Reagan-Gorbachev dan proses pengendalian senjata nuklir berikutnya.

Karena itu, The Brink of War sebenarnya memiliki premis yang sangat kuat: dua pemimpin dunia bertemu ketika perang nuklir menjadi kemungkinan nyata, kemudian mencoba mencari jalan keluar melalui negosiasi.

Sayangnya, film ini lebih sering terasa seperti rekonstruksi sejarah yang diperpanjang daripada thriller politik yang benar-benar menggigit.

Bagi penonton yang tertarik pada sejarah Perang Dingin, perundingan senjata nuklir, dan hubungan Reagan-Gorbachev, film ini tetap menawarkan informasi dan gambaran menarik mengenai KTT Reykjavík. Tetapi bagi mereka yang mengharapkan drama politik dengan tempo tinggi, The Brink of War mungkin terasa terlalu lambat.

Nilai: 7/10.

Jared Harris menjadi kekuatan utama dengan penampilan Gorbachev yang penuh tekanan, sementara Jeff Daniels memilih pendekatan yang lebih tenang sebagai Reagan. Secara visual dan historis film ini cukup meyakinkan, tetapi ketegangan yang seharusnya menjadi jantung cerita terlalu sering tenggelam dalam percakapan panjang.

The Brink of War bercerita tentang saat ketika dunia menunggu keputusan dua pemimpin negara adidaya. Sayangnya, filmnya sendiri tidak selalu berhasil membuat penonton ikut menunggu dengan tegang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Megapolitan
Kabel PLN Dicuri, Pasokan L...
Advertisement
Pramono Targetkan 6.500 Km Kabel Jakarta Masuk Tanah dalam 5 Tahun, Wajah Ibu Kota Bakal Berubah

Pramono Targetkan 6.500 Km Kabel Jakarta Masuk Tanah dalam 5 Tahun, Wajah Ibu Kota Bakal Berubah

10 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.