RAPBN 2027 di Depan Mata, Investor Menanti Jawaban Pemerintah soal Arah Ekonomi Indonesia
📅 Jumat, 14 Agu 2026, 05:00 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai pelaku pasar tidak hanya menunggu angka-angka dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, tetapi juga membutuhkan gambaran yang lebih jelas mengenai arah besar kebijakan ekonomi pemerintah.
“Dalam kondisi normal, pasar biasanya fokus pada angka defisit, target pertumbuhan, atau asumsi makro. Namun tahun ini berbeda,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (13/8).
Menurut dia, pelaku pasar saat ini sudah memiliki gambaran mengenai sejumlah asumsi dasar RAPBN 2027. Pemerintah dan DPR sebelumnya menyepakati kisaran pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 5,8-6,5 persen, defisit fiskal 1,8-2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), serta asumsi nilai tukar rupiah Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS.
Karena itu, kata Fakhrul, perhatian pasar kini lebih tertuju pada penjelasan pemerintah mengenai arah kebijakan ke depan, terutama terkait kebijakan fiskal, moneter, pembiayaan pembangunan, serta strategi eksternal Indonesia yang perlu disusun dalam satu kerangka kebijakan yang konsisten.
Ia menilai setidaknya terdapat empat persoalan utama yang perlu dijawab pemerintah melalui RAPBN 2027.
Pertama, pasar ingin mengetahui apakah RAPBN 2027 akan menjadi awal konsolidasi fiskal setelah berbagai gejolak pada 2026 atau justru menjadi fondasi ekspansi pembangunan yang lebih agresif.
Investor, menurut Fakhrul, perlu memperoleh kejelasan mengenai bagaimana pemerintah menyeimbangkan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga kesehatan dan keberlanjutan fiskal dalam beberapa tahun mendatang.
Sebelumnya, Badan Anggaran (Banggar) DPR RI menyatakan arah kebijakan fiskal 2027 dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus menjaga keberlanjutan APBN.
Wakil Ketua Banggar DPR RI Wihadi Wiyanto mengatakan tema kebijakan fiskal 2027 adalah “Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat.”
“Melalui tema ini arah kebijakan pembangunan nasional menitikberatkan pada percepatan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Wihadi dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-23 Masa Persidangan V di Jakarta, Kamis.
Menurut Wihadi, pembahasan pendahuluan RAPBN 2027 bersama pemerintah dan Bank Indonesia menyepakati kebijakan fiskal yang ekspansif, tetapi tetap terukur dan berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pendapatan negara disepakati berada pada kisaran 12,01-12,40 persen terhadap PDB, meningkat dari kesepakatan dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) sebesar 11,82-12,40 persen PDB.
Rinciannya meliputi penerimaan perpajakan sebesar 10,16-10,50 persen PDB, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) 1,85-1,89 persen PDB, serta hibah 0,002-0,003 persen PDB.
Peningkatan pendapatan negara akan ditempuh melalui optimalisasi administrasi perpajakan, peningkatan kepatuhan wajib pajak, perluasan basis pajak, optimalisasi penerimaan sumber daya alam, serta penyesuaian sistem perpajakan terhadap perkembangan ekonomi digital.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (1)
14 Aug 2026, 09:37 WIB.
Sejalan dengan kehati-hatian fiskal yang disepakati Banggar DPR di tengah ketidakpastian global, sektor industri pengolahan (food processing) hingga farmasi tentu akan semakin terdorong untuk mengintegrasikan teknologi otomasi dan smart manufacturing guna menekan biaya operasional sekaligus menjaga produktivitas di tengah asumsi nilai tukar rupiah yang diproyeksikan berada di kisaran Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS.
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!