Mengakali Sinyal “Eat-Me”: Langkah Baru Menumbuhkan Organ Donor dari Spesies Lain
📅 Kamis, 13 Agu 2026, 07:28 WIB | Oleh: Haryo BronoDalam eksperimen tersebut, peneliti menguji beberapa pendekatan untuk menghambat xenophagocytosis. Salah satunya adalah menghilangkan atau mengurangi aktivitas makrofag pada embrio inang. Pendekatan lain menargetkan reseptor Axl yang terlibat dalam pengenalan sel donor.
Peneliti juga mengambil pendekatan dari sisi sel donor. Mereka meningkatkan ekspresi CD47, molekul yang dikenal sebagai sinyal “don’t-eat-me”, atau sinyal yang membantu sel menghindari proses pemakanan oleh fagosit.
Strategi lainnya melibatkan ATP11C, protein yang berperan dalam mengatur distribusi phosphatidylserine pada membran sel. Dengan memanipulasi jalur tersebut, peneliti berhasil meningkatkan keberadaan sel donor dari spesies berbeda dalam embrio tikus. Mereka juga melaporkan peningkatan pembentukan chimera tikus-mencit dan kontribusi sel donor pada pembentukan pankreas.
Hasil ini menunjukkan bahwa hambatan imun yang sebelumnya menjadi salah satu persoalan besar dalam pengembangan chimera antarspesies dapat ditargetkan secara lebih spesifik.
“Pemblokiran xenophagocytosis meningkatkan chimerism sel donor tikus dan manusia pada embrio tikus serta meningkatkan efisiensi pembentukan pankreas antarspesies,” tulis para peneliti.
Bukan Sekadar Mematikan Sistem Kekebalan
Pendekatan tersebut juga menunjukkan perubahan cara pandang dalam mengatasi masalah kompatibilitas antarspesies. Selama ini, imunosupresi menjadi salah satu strategi utama dalam transplantasi. Obat imunosupresan digunakan untuk menekan respons kekebalan sehingga tubuh tidak menyerang organ yang ditransplantasikan.
Namun, menekan sistem kekebalan secara luas memiliki konsekuensi. Sistem imun juga berfungsi melindungi tubuh dari infeksi dan ancaman lainnya. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih terarah menjadi sangat menarik. Ketimbang mematikan sistem kekebalan secara keseluruhan, peneliti berusaha mengidentifikasi mekanisme spesifik yang menyebabkan sel donor dihancurkan.
Dalam kasus xenophagocytosis, targetnya adalah interaksi antara sinyal pada sel donor dan mekanisme pengenalan oleh makrofag. Strategi semacam ini berpotensi menghasilkan intervensi yang lebih terkontrol dibandingkan penekanan imun secara menyeluruh.
Tidak Hanya Sistem Imun yang Menjadi Penghalang
Meski demikian, keberhasilan mengatasi xenophagocytosis tidak berarti persoalan pengembangan organ antarspesies telah selesai. Sel donor dan sel inang masih harus mampu bekerja bersama selama proses perkembangan.
Para peneliti sebelumnya telah mengidentifikasi berbagai xenogeneic barriers, termasuk perbedaan waktu perkembangan, interaksi antarsel, adhesi sel, serta persaingan antara sel donor dan sel inang.
Studi ini sendiri menunjukkan bahwa bahkan ketika hambatan imun bawaan berhasil dikurangi, pengembangan chimera antarspesies tetap merupakan proses yang kompleks. Peneliti harus mengatasi persoalan imunologi sekaligus persoalan perkembangan biologis. Karena itu, temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai satu bagian penting dari rangkaian panjang penelitian menuju pengembangan organ lintas spesies, bukan sebagai bukti bahwa organ manusia sudah dapat diproduksi secara rutin di dalam hewan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!