Cegah Penularan, Dinkes Kaltim Petakan Daerah Endemis Tinggi untuk Eliminasi Malaria
📅 Kamis, 13 Agu 2026, 02:23 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoSAMARINDA - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur memetakan daerah dengan tingkat endemis malaria tinggi untuk mempercepat penanggulangan dan eliminasi penularan penyakit tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin mengatakan pemetaan berkala diperlukan untuk memfokuskan intervensi, terutama di wilayah yang masih memiliki temuan kasus penularan setempat.
"Pemetaan berkala ini sangat krusial untuk memfokuskan intervensi penanganan medis, terutama di wilayah-wilayah yang masih mendominasi temuan kasus penularan setempat," kata Jaya di Samarinda, Rabu.
Hingga triwulan kedua 2026, kasus malaria setempat masih ditemukan terutama di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Timur.
Secara akumulatif, jumlah kasus malaria di Kalimantan Timur hingga pertengahan 2026 mencapai 408 kasus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jaya mengatakan sebagian besar kabupaten dan kota di Kalimantan Timur mengalami penurunan kasus dalam tiga tahun terakhir. Namun, pengawasan di pintu masuk daerah tetap dilakukan untuk mencegah penularan dari luar daerah.
"Meskipun mayoritas kabupaten dan kota secara umum mengalami penurunan angka kasus dalam tiga tahun terakhir, pengawasan di pintu masuk daerah tetap berjalan maksimal," ujarnya.
Selain penularan setempat, Dinas Kesehatan Kaltim mewaspadai kasus malaria impor yang berpotensi menyebar di kawasan perkotaan, terutama Kota Balikpapan dan Kota Samarinda.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 2025, kasus malaria di Balikpapan meningkat dari 68 menjadi 115 kasus. Di Samarinda, kasus meningkat dari 11 menjadi 57 kasus setelah anggota TNI dan Polri kembali dari penugasan di Papua.
"Langkah skrining kesehatan secara intensif bagi pendatang dari luar daerah diperketat guna mencegah terbentuknya rantai penularan baru," katanya.
Jaya mengatakan pembangunan infrastruktur Ibu Kota Nusantara di Sepaku juga berkaitan dengan perubahan lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan nyamuk Anopheles.
Menurut dia, perubahan sebagian kawasan hutan menjadi kawasan perkotaan hijau yang tertata dapat membantu mengurangi populasi nyamuk penular malaria.
"Melalui integrasi layanan medis di 188 puskesmas serta penguatan pengawasan lapangan, kami menargetkan eliminasi penyakit ini terealisasi utuh sebelum tahun 2030," jelas Jaya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat koordinasi lintas lembaga dan edukasi masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan lingkungan yang sehat serta bebas malaria.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!