Olimpiade Demokrasi Yogyakarta Asah Kemampuan Pelajar Hargai Perbedaan
📅 Selasa, 29 Sep 2026, 16:10 WIB | Oleh: Eko SYOGYAKARTA – Kemampuan menyampaikan gagasan sekaligus menerima pandangan yang berbeda menjadi salah satu pembelajaran yang ditekankan dalam Final Olimpiade Demokrasi 2026 Kota Yogyakarta. Kompetisi yang mempertemukan pelajar SMA sederajat tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengasah wawasan kebangsaan melalui adu pengetahuan dan gagasan.
Kegiatan yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Yogyakarta itu berlangsung di Ruang Bima Balai Kota Yogyakarta, Senin (28/9).
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori mengatakan, demokrasi tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas politik. Menurutnya, kemampuan menghormati perbedaan pandangan merupakan bagian penting dalam kehidupan demokratis yang perlu dipelajari sejak dini.
“Belajar demokrasi itu adalah belajar adanya perbedaan, saling menghormati antara pendapat yang berbeda. Ini menjadi pembelajaran sepanjang masa, bagi anak-anak maupun kita yang sudah dewasa,” katanya.
Budi menilai kemampuan tersebut semakin penting bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi. Perbedaan pandangan, katanya, bahkan dapat terjadi di antara orang-orang yang memiliki latar belakang agama maupun suku yang sama.
“Kalau perbedaan agama atau suku, itu jelas. Tetapi kalau perbedaan pendapat, kadang-kadang kita sulit untuk saling menghormati. Karena itu, ini menjadi pembelajaran bagi kita semua,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi para peserta yang telah mengikuti seluruh tahapan Olimpiade Demokrasi hingga mencapai babak final. Menurut Budi, proses mengikuti kompetisi merupakan pengalaman pembelajaran yang tetap bernilai, terlepas dari hasil akhir yang diperoleh peserta.
Sementara itu, Sekretaris Badan Kesbangpol Kota Yogyakarta Widiyastuti mengatakan Olimpiade Demokrasi menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan isu demokrasi dan politik kepada generasi muda.
“Demokrasi dan politik itu tidak hanya urusannya orang tua, orang yang siap menjadi caleg, wali kota, atau bupati. Politik dan demokrasi harus sudah ada di pikiran sejak muda, sejak awal,” katanya.
Menurut Widiyastuti, pengenalan demokrasi sejak usia sekolah diharapkan dapat membentuk generasi muda yang terbuka terhadap perbedaan, mempunyai wawasan kebangsaan, serta mampu berperan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ia menilai pemahaman mengenai demokrasi perlu diperoleh melalui pengalaman langsung. Karena itu, kesempatan berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan berhadapan dengan pandangan yang berbeda menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Dalam kompetisi tahun ini, MA Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta keluar sebagai Juara I Olimpiade Demokrasi 2026 Kota Yogyakarta. Posisi Juara II diraih SMA Negeri 1 Yogyakarta, sedangkan SMA Negeri 5 Yogyakarta menempati Juara III.
Sementara itu, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta meraih Juara Harapan I dan SMA Negeri 11 Yogyakarta meraih Juara Harapan II.
Anggota tim MA Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta, Bagaskara Yunari Bumi, mengatakan timnya mempersiapkan diri sekitar satu bulan untuk mengikuti rangkaian kompetisi. Persiapan kemudian ditingkatkan selama sekitar empat hari menjelang babak final setelah tim dinyatakan lolos sebagai finalis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!