Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Teknologi Masuk Kolam Ikan! UTM Kembangkan Perikanan dengan Bioflok dan IoT

📅 Selasa, 29 Sep 2026, 05:41 WIB | Oleh:
Teknologi Masuk Kolam Ikan! UTM Kembangkan Perikanan dengan Bioflok dan IoT Doc: Antara foto/HO UTM Bangkalan
Ket. Pengembangan usaha perikanan dengan kolam bioflok dan IoT di Desa Rek Kerek, Pamekasan oleh tim Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan.

PAMEKASAN - Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan mengembangkan usaha perikanan dengan kolam bioflok dan IoT (Internet of Things) sebagai upaya penerapan teknologi budidaya perikanan yang efisien dan berkelanjutan.

Program yang diluncurkan di Desa Rek Kerek, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur yang merupakan desa binaan Perguruan Tinggi ini, sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan masyarakat.

"Integrasi teknologi bioflok dan IoT pada pengembangan usaha perikanan di desa binaan UTM ini diharapkan dapat menghasilkan model budidaya yang memiliki nilai produktivitas, ekonomi, sekaligus manfaat lingkungan," kata Ketua pelaksana kegiatan, Sri Ratna Triyasari dalam keterangan tertulis yang diterima di Pamekasan, Senin malam.

Program bertajuk "Pemberdayaan Kelompok Pengairan melalui Budidaya Perikanan Berkelanjutan Berbasis Bioflok untuk Mewujudkan Ketahanan, Kemandirian, dan Kualitas Konsumsi Pangan" yang diluncurkan pada 13 September 2026 itu melalui pendanaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTM itu fokus pada pengembangan budi daya ikan lele.

Sebanyak 5.000 bibit ikan lele telah ditebar di kolam bioflok berdiameter 3 meter ini.

Menurut Ratna, integrasi teknologi ini diharapkan dapat menghasilkan model budidaya yang memiliki nilai produktivitas, ekonomi, sekaligus manfaat lingkungan. Masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh sarana budidaya, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola usaha perikanan secara mandiri.

Penerapan IoT menjadi salah satu aspek teknologi yang dikembangkan dalam program tersebut. Sistem tersebut memungkinkan pengukuran pH dan suhu air secara otomatis sehingga kondisi kolam dapat dipantau tanpa harus selalu dilakukan secara manual.

“Dengan pemantauan yang lebih cepat dan terukur, pembudidaya dapat mengetahui kondisi air kolam. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan tindakan pemeliharaan kolam," katanya, menjelaskan.

Kualitas air menjadi salah satu faktor penting dalam budidaya ikan. Melalui sistem monitoring, perubahan kondisi air diharapkan dapat diketahui lebih awal sehingga risiko terhadap pertumbuhan dan kesehatan ikan bisa ditekan.

Program ini juga melibatkan mahasiswa UTM sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman di lapangan.

Selain budi daya ikan lele, UTM juga merencanakan pengembangan pakan berbasis bioslurry. Pemanfaatan tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal sekaligus mengurangi limbah dari suatu kegiatan produksi.

Pendekatan itu menjadi bagian dari upaya mengembangkan sistem produksi yang lebih terintegrasi dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni meningkatkan pemanfaatan kembali sumber daya dalam suatu sistem.

Tim UTM berharap program di Desa Rek Kerrek dapat berkembang dari kegiatan percontohan menjadi model budidaya yang dapat diterapkan oleh kelompok masyarakat lainnya.

Program ini juga diharapkan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui peningkatan keterampilan, penyediaan sumber pangan, serta peluang ekonomi baru.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Luar Negeri
Kerusuhan Pecah di Milan, T...
Ekonomi
Rupiah Dibayangi Gejolak MS...
Advertisement
2,4 Ton Dry Ice Dijatuhkan dalam Uji Coba Penanggulangan Kabut Asap di Sumatera Selatan

2,4 Ton Dry Ice Dijatuhkan dalam Uji Coba Penanggulangan Kabut Asap di Sumatera Selatan

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.