Di Tengah Penataan Subsidi Pertalite, Motor Listrik Jadi Pilihan Mobilitas yang Kian Relevan.
📅 Rabu, 12 Agu 2026, 17:33 WIB | Oleh: Yebdi TrismarWacana Pemerintah untuk menata penyaluran Pertalite agar semakin tepat sasaran menjadi momentum bagi masyarakat untuk mempertimbangkan pilihan mobilitas yang lebih efisien. Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) mendorong sepeda motor listrik menjadi salah satu pilihan utama untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap BBM sekaligus mendukung efisiensi belanja energi nasional.
Pembahasan penataan penyaluran Pertalite kembali mengemuka setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Selasa, 11 Agustus 2026. Pemerintah tengah mengkaji pembatasan akses Pertalite bagi kelompok masyarakat mampu, termasuk desil 9 dan 10, dengan penerapan secara bertahap setelah sistem pendukung siap.
Menurut AISMOLI, momentum tersebut perlu dilihat lebih luas dari sekadar penataan penerima subsidi. Indonesia juga memiliki kesempatan untuk mengurangi kebutuhan terhadap BBM secara struktural melalui percepatan adopsi kendaraan listrik, khususnya sepeda motor yang merupakan moda transportasi dominan masyarakat. Data BPS (2025) menunjukkan jumlah sepeda motor di Indonesia telah mencapai sekitar 139,45 juta unit. Besarnya populasi tersebut membuat peralihan sebagian kendaraan roda dua ke listrik berpotensi memberikan dampak yang signifikan terhadap konsumsi energi nasional.
“Penataan subsidi menjadi momentum yang tepat untuk memperluas pilihan masyarakat. Kalau masyarakat memiliki kendaraan yang lebih efisien untuk kebutuhan sehari-hari, ketergantungan terhadap BBM juga dapat berkurang. Sepeda motor listrik semakin relevan karena biaya operasionalnya lebih rendah dan pilihan produknya semakin beragam,” ujar Budi Setiyadi, Ketua Umum AISMOLI.
Potensi penghematannya tidak kecil. Kementerian ESDM (2022) sebelumnya pernah memperkirakan penggunaan 900 ribu sepeda motor listrik dapat mengurangi konsumsi BBM sekitar 320 juta liter per tahun sekaligus menekan kompensasi Pertalite sekitar Rp480 miliar per tahun. Untuk pengguna, Kementerian ESDM juga memperkirakan penghematan biaya BBM sepeda motor listrik dapat mencapai sekitar Rp2,68 juta per tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan skala kendaraan roda dua Indonesia yang sangat besar, AISMOLI memandang percepatan adopsi motor listrik dapat menghasilkan efek penghematan yang semakin signifikan. Berdasarkan rasio penghematan konsumsi BBM yang pernah dihitung Kementerian ESDM, setiap satu juta sepeda motor yang beralih ke listrik setara dengan potensi pengurangan konsumsi BBM sekitar 356 juta liter per tahun. Artinya, peralihan 5 juta sepeda motor berpotensi mengurangi kebutuhan BBM sekitar 1,78 miliar liter per tahun, sementara 10 juta sepeda motor dapat mencapai sekitar 3,56 miliar liter per tahun. Angka tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan rasio perhitungan Kementerian ESDM dan realisasinya akan bergantung pada pola penggunaan kendaraan serta jenis BBM yang sebelumnya digunakan.
“Kalau dilakukan dalam skala jutaan kendaraan, manfaatnya bukan hanya dirasakan pemilik motor melalui biaya operasional yang lebih rendah. Negara juga memiliki peluang mengurangi konsumsi BBM dan ruang fiskal yang selama ini diperlukan untuk menjaga harga energi. Karena itu, motor listrik harus mulai dilihat sebagai bagian dari solusi efisiensi energi nasional,” kata Budi.
Momentum Harus Diikuti Ekosistem yang Kuat
Sebaiknya Anda baca juga:
AISMOLI menekankan bahwa masyarakat akan beralih apabila kendaraan listrik benar-benar memberikan manfaat yang kompetitif. Karena itu, percepatan adopsi harus berjalan bersama dengan peningkatan kualitas dan keselamatan produk, harga yang semakin terjangkau, ketersediaan suku cadang, jaringan layanan purnajual, infrastruktur pengisian maupun penukaran baterai, serta perlindungan konsumen. Penguatan industri juga perlu melibatkan seluruh pelaku usaha yang telah berinvestasi dan berkontribusi di Indonesia, mulai dari produsen kendaraan dan baterai, industri komponen, bengkel dan jaringan distribusi, hingga penyedia infrastruktur.
“Peralihan tidak bisa hanya didorong oleh perubahan kebijakan BBM. Masyarakat harus memiliki alasan yang kuat untuk memilih motor listrik: produknya berkualitas, aman, ekonomis, dan mudah digunakan. Tugas industri adalah memastikan seluruh ekosistem itu tersedia,” ujar Budi.
AISMOLI juga mendukung peningkatan penggunaan komponen dalam negeri yang berjalan seiring dengan penguatan kemampuan pemasok lokal. Kebijakan industri perlu menjaga kompetisi yang sehat serta memberikan ruang bagi seluruh pelaku yang memenuhi standar, melakukan investasi, menciptakan lapangan kerja, membangun layanan, dan memberikan perlindungan kepada konsumen.
Menurut AISMOLI, penataan subsidi BBM dan percepatan adopsi kendaraan listrik pada akhirnya dapat berjalan beriringan. Subsidi dapat semakin diarahkan kepada masyarakat yang membutuhkan, sementara konsumen yang memiliki kemampuan dan kebutuhan untuk beralih mendapatkan pilihan mobilitas yang lebih efisien.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar lebih banyak motor listrik di jalan. Kita ingin masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang semakin ekonomis sekaligus membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Kalau ekosistemnya semakin kuat, manfaatnya akan dirasakan konsumen, industri, maupun negara,” tutup Budi.
Tentang AISMOLI
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!