Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Strategi Baru Melawan Hepatitis B dengan Membungkam DNA Virus

📅 Selasa, 29 Sep 2026, 07:38 WIB | Oleh:
Strategi Baru Melawan Hepatitis B dengan Membungkam DNA Virus Doc: Foto: Thinkstock
Ket. Ilustrasi Vaksin Hepatitis B

PARA peneliti mengembangkan strategi ini untuk menghadapi hepatitis B kronis dengan cara yang berbeda dari teknologi pengeditan gen konvensional. Alih-alih memotong atau mengubah urutan DNA virus, teknologi ini menambahkan “tanda” kimia pada DNA hepatitis B sehingga materi genetik virus menjadi sulit dibaca oleh sel.

Kandidat terapi yang dikembangkan dengan pendekatan ini, yakni CRMA-1001, dirancang untuk membungkam aktivitas DNA virus hepatitis B (HBV), termasuk DNA virus yang berada sebagai episom maupun yang telah terintegrasi ke dalam genom sel hati.

Hasil penelitian praklinis mengenai CRMA-1001 diterbitkan dalam jurnal Nature Biomedical Engineering pada 21 September 2026. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa satu dosis terapi mampu menurunkan berbagai penanda virus pada model tikus, sedangkan pemberian tiga dosis membuat hingga 90 persen hewan dalam model penelitian memiliki kadar antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) dan DNA HBV yang tidak terdeteksi enam bulan setelah terapi.

Temuan tersebut menjadi dasar pengembangan terapi menuju manusia. Uji klinis fase 1/2 CRMA-1001 telah dimulai, dengan peserta pertama dilaporkan menerima terapi melalui infus intravena pada Januari 2026. Uji klinis ini terutama dirancang untuk menilai keamanan dan tolerabilitas, sekaligus melihat profil farmakokinetik, farmakodinamik, dan sinyal awal efektivitas terapi.

Oleh karena itu, teknologi ini belum dapat disebut sebagai terapi yang telah terbukti menyembuhkan hepatitis B. Yang tersedia saat ini adalah data praklinis yang menjanjikan serta tahap awal pengujian klinis pada manusia.

Persoalan Terbesar

Hepatitis B bukan sekadar virus yang beredar di dalam aliran darah. Salah satu alasan infeksi kronis HBV sulit diberantas adalah kemampuan virus untuk meninggalkan bentuk DNA yang relatif stabil di dalam inti sel hati. Setelah menginfeksi hepatosit, HBV dapat membentuk struktur DNA melingkar yang disebut covalently closed circular DNA atau cccDNA. Struktur ini berada di dalam inti sel dan berfungsi sebagai semacam cetakan atau “arsip” bagi produksi RNA virus.

Selama cccDNA masih aktif, sel hati dapat terus menghasilkan berbagai RNA dan protein virus. Karena itu, meskipun jumlah virus dalam darah dapat ditekan oleh obat antivirus konvensional, sumber materi genetik virus di dalam sel hati masih menjadi tantangan utama untuk mendapatkan kesembuhan fungsional (functional cure).

HBV juga mempunyai persoalan lain, di mana sebagian DNA virus dapat terintegrasi ke dalam genom sel manusia. DNA terintegrasi tersebut tidak sama dengan cccDNA dan bukan merupakan sumber utama pembentukan virus baru, tetapi dapat tetap menghasilkan RNA dan protein virus tertentu, termasuk HBsAg. Kondisi inilah yang membuat pemberantasan HBV menjadi lebih rumit, karena terapi harus menekan virus yang sedang bereplikasi sekaligus menghadapi reservoir materi genetik yang bertahan di dalam sel.

Mengapa DNA Virus Tidak Dipotong Saja?

Salah satu gagasan yang berkembang dalam terapi gen adalah menggunakan sistem seperti CRISPR untuk mencari urutan DNA tertentu lalu memotongnya. Strategi semacam ini mempunyai daya tarik karena secara teoritis DNA virus dapat langsung dihancurkan atau dibuat tidak berfungsi.

Namun, pemotongan DNA juga menghadirkan persoalan keselamatan dan kontrol yang tinggi. Sistem harus menemukan sasaran secara presisi tanpa membuat perubahan yang tidak diinginkan pada DNA manusia di luar target.

CRMA-1001 menggunakan konsep yang berbeda. Komponen terapi ini membawa versi protein Cas9 yang telah dimodifikasi sehingga kehilangan kemampuan memotong DNA. Protein Cas9 yang tidak aktif secara katalitik atau dead Cas9 (dCas9) ini digunakan sebagai alat penjejak untuk menemukan lokasi sasaran pada DNA HBV.

Setelah diarahkan ke lokasi tersebut, dCas9 membawa perangkat pengatur epigenetik yang bertugas menambahkan tanda kimia pada DNA. Dengan kata lain, sistem ini menggunakan kemampuan Cas9 untuk mencari alamat, tetapi tidak menggunakan fungsi “gunting” molekulernya untuk memotong DNA.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Megapolitan
BPBD: Tangerang Berpotensi ...
Megapolitan
Pemkot Jakut Edukasi Pelaja...
Advertisement
Kerusuhan Pecah di Milan, Toko-toko Dijarah Massa

Kerusuhan Pecah di Milan, Toko-toko Dijarah Massa

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.