Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Rawan Tertekan - 29 September 2026

📅 Selasa, 29 Sep 2026, 07:43 WIB | Oleh:
Rupiah Rawan Tertekan - 29 September 2026 Doc: istimewa

JAKARTA – Rupiah masih menghadapi risiko tekanan karena sentimen eksternal tetap menjadi penggerak utama pasar.

Dinamika geopolitik dan rilis data ekonomi penting Amerika Serikat (AS) dapat memengaruhi ekspektasi terha­dap arah kebijakan The Fed, arus modal, serta permintaan terhadap dollar AS sehingga membuat ruang penguatan ru­piah masih terbatas dan volatilitas berpotensi tetap tinggi.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi melihat rupiah berpotensi me­lemah dan menguji level psikologis baru.

Dia memproyek­sikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Selasa (29/9), bergerak cenderung melemah di kisaran 17.900-18.050 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan Senin (28/9) bergerak melemah 75 poin atau 0,42 persen dari akhir pekan lalu menjadi 17.978 rupiah per dollar AS.

“Pelemahan rupiah dipengaruhi eska­lasi konflik antara Iran dengan AS,” ujarnya di Jakarta.

Dia menjelaskan situasi Selat Hormuz memanas setelah delapan anggota Korps Marinir AS terluka menyusul sebu­ah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal yang me­reka operasikan di Selat Hormuz.

Iran disebut takkan melunakkan syarat-syaratnya un­tuk membuka kembali Selat Hormuz.

Usulan Iran tersebut memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sembari negosiasi yang lebih luas dilanjut­kan, dengan syarat Washington mencabut blokade angkatan laut, melonggarkan tekanan militer, menghapus sanksi atas penjualan minyak Iran, serta menyetujui gencatan senjata.

Iran menyatakan tetap berkomitmen pada syarat-syarat tersebut meskipun Trump menolaknya.

Selain itu, pasar juga tengah menanti agenda ekonomi AS akan jauh lebih padat pada pekan ini.

Data inflasi Per­sonal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan rilis pada Rabu (30/9), diikuti oleh data ISM Manufacturing PMI pada Kamis (1/10) dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat (2/10).

“Rilis data-data tersebut dapat memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan,” ujar Ibrahim.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Nasional
Memperkuat penanganan karhu...
Nasional
Bakti kesehatan Polri di Po...
Advertisement
Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.