Mata Juling Perlu Ditangani, Deteksi Dini Bantu Jaga Fungsi Penglihatan Anak
📅 Senin, 10 Agu 2026, 16:57 WIB | Oleh: Haryo BronoStrabismus Tidak Selalu Terlihat Jelas
Strabismus dapat muncul dalam berbagai bentuk. Berdasarkan arah deviasi, kondisi ini antara lain dikenal sebagai esotropia ketika mata bergeser ke arah dalam, exotropia ketika mata bergeser ke arah luar, hypertropia ketika mata bergeser ke atas, dan hypotropia ketika mata bergeser ke bawah.
Berdasarkan pola kemunculannya, strabismus juga dapat bersifat manifest atau terlihat jelas, latent atau tersembunyi, intermittent atau hilang-timbul, serta alternating atau bergantian antara mata kanan dan kiri.
Strabismus laten atau tersembunyi tidak selalu mudah dikenali dalam aktivitas sehari-hari. Posisi mata dapat terlihat normal ketika anak sedang fokus, tetapi tampak menyimpang ketika lelah atau pada kondisi tertentu.
Deteksi awal dapat dilakukan dengan memperhatikan kesimetrisan refleks cahaya pada kedua mata, posisi bola mata, serta perubahan arah pandangan yang terlihat pada foto atau rekaman video. Namun, temuan tersebut perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), mengatakan orang tua perlu memperhatikan kondisi mata anak, terutama apabila ketidaksejajaran mata menetap.
Menurut Lely, pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, koordinasi mata terkadang belum sepenuhnya berkembang. Namun, apabila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, kondisi tersebut perlu diperiksakan.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak, kesulitan memperkirakan jarak, atau mengeluhkan penglihatan ganda.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Juling yang muncul mendadak, terlebih jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya, perlu segera diperiksa,” ujarnya.
Beragam Faktor Dapat Memicu Strabismus
Strabismus dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata, serta gangguan pada otot atau saraf penggerak mata.
Pada orang dewasa, strabismus yang baru muncul juga dapat berkaitan dengan kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, maupun penyakit sistemik tertentu.
Ketua Perdami Jaya, Dr. Julie Dewi Barliana, SpM, Subsp.P.O.S., Biomed, mengatakan masih terdapat anak dengan mata juling yang terlambat mendapatkan pemeriksaan karena kondisi tersebut dianggap hanya berkaitan dengan penampilan atau dapat ditunda.
Menurutnya, strabismus dapat memengaruhi kualitas penglihatan dan meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas, terutama ketika terjadi pada masa perkembangan penglihatan anak. Ia menilai kehadiran Pusat Operasi Mata Juling dapat mendukung edukasi, sistem rujukan, serta akses masyarakat terhadap penanganan strabismus.
“Perdami Jaya mengapresiasi kehadiran Pusat Operasi Mata Juling RS Mata JEC @ Menteng sebagai langkah untuk memperkuat edukasi, sistem rujukan, serta akses masyarakat terhadap penanganan strabismus yang tepat,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!