Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bukan Sekadar Destinasi Wisata, Bontang Kuala: Ruang Hidup yang Harmoni Antara Manusia dan Alam

📅 Minggu, 09 Agu 2026, 17:40 WIB | Oleh:
Bukan Sekadar Destinasi Wisata, Bontang Kuala: Ruang Hidup yang Harmoni Antara Manusia dan Alam Doc: ANTARA/Ahmad Rifandi
Ket. Perkampungan terapung Bontang Kuala sebagai salah satu desa wisata unggulan Kalimantan Timur.

SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR - Di pesisir Kota Bontang, Kalimantan Timur, berdiri Kelurahan Bontang Kuala di Kecamatan Bontang Utara, sebuah perkampungan yang menolak tunduk pada daratan dengan denyut kehidupan sehari-hari warganya yang hangat di atas riak Selat Makassar.

Berjalan menyusuri gang-gang kampung terapung di kelurahan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah petualangan sensorik. Di bawah pijakan kaki, derit jembatan ulin menceritakan sejarah panjang daya tahan masyarakat pesisir. Di sekeliling, aroma khas laut berpadu selaras dengan wangi terasi udang yang dijemur, kepak sayap burung di rimbunnya mangrove, serta senyum ramah para nelayan.

Bontang Kuala bukan sekadar destinasi pariwisata unggulan. Kawasan ini adalah ruang hidup yang merayakan harmoni manusia dengan alam, ketangguhan adat leluhur, serta kehangatan ikatan komunitas.

Bontang Kuala telah ada sebagai perkampungan nelayan tradisional sejak sekitar tahun 1789 di bawah naungan Kesultanan Kutai. Wilayah ini kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan lokal pada masa kolonial Belanda pada 1920, ditandai dengan berdirinya bangunan-bangunan penting seperti kantor wedana pada 1923.

Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, menjelaskan bahwa kelurahan ini memiliki tata ruang pemukiman yang unik. Kawasan ini terbagi menjadi 11 Rukun Tetangga (RT) yang mengapung di atas perairan dan sembilan RT yang berada di daratan. Kelurahan seluas 627 hektare ini terus berkembang menjadi kawasan pemukiman pesisir yang tumbuh pesat di Bontang.

Berbeda dengan jalanan perkotaan pada umumnya yang bising oleh deru kendaraan, atmosfer di Bontang Kuala dipenuhi kedamaian. Hal ini karena kendaraan roda empat atau mobil dilarang melintas di kawasan terapung ini.

"Seluruh mobil pengunjung maupun warga harus diparkir di area luar, tepat di depan gerbang utama. Ini membiarkan lorong-lorong kayu ulin menjadi ruang yang aman bagi pejalan kaki dan pengendara roda dua," terang lurah setempat.

Jalan utama dan gang-gang di perkampungan ini berupa jembatan kayu ulin panjang yang membentang di atas air laut, sebuah lanskap yang mengingatkan pada struktur jembatan ulin di daerah hulu Sungai Mahakam. Kayu ulin dijuluki kayu besi karena kekuatannya yang justru semakin kokoh ketika terendam air laut, menjadikannya fondasi utama kehidupan warga pesisir.

Ketika melongok ke kolong rumah panggung nelayan saat air laut surut, terlihat jelas tiang-tiang ulin penyangga rumah yang berselimut kerang liar dan teritip. Kepiting-kepiting kecil berlarian di antara tanaman bakau di sela-sela jembatan, sementara air muara sungai yang berwarna kuning kecokelatan mengalir tenang menuju laut lepas.

Bagi wisatawan yang lelah atau enggan berjalan kaki menyusuri labirin jembatan ulin, warga lokal menawarkan solusi transportasi yang memudahkan. Di dekat area parkir gerbang depan, berjejer kendaraan roda tiga khas yang dinamakan BMW (Becak Motor Wisata). Dengan tarif terjangkau sekitar Rp20.000 per perjalanan keliling, pengemudi becak lokal siap membawa pengunjung membelah perkampungan terapung ini hingga ke tepi laut.

20260809173923_bontang-kuala-4.jpeg

Para pengunjung dapat menggunakan becak motor wisata untuk menelusuri lorong perkampunga terapung Bontang Kuala. (Antara/Ahmad Rifandi)

Di atas becak motor berukuran kecil ini, terpaan angin laut di wajah terasa sangat menyegarkan, membawa wisatawan hanyut dalam kehangatan aktivitas harian warga pesisir.

Bontang Kuala tidak tumbuh dari ruang hampa. Di balik statusnya yang mentereng sebagai desa wisata budaya, tersimpan kisah sejarah panjang yang membuatnya berbeda dari wilayah lain di Kota Bontang. Berdasarkan penuturan Jafar, tokoh dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kuala Abadi, kawasan terapung ini merupakan cikal bakal berdirinya pemerintahan pertama di Bontang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...

Tips Menjalankan Bisnis Waralaba

29 menit yang lalu | Ones

Rona
Tips Menjalankan Bisnis War...
Nasional
Terungkap! Ini Isi Pertemua...
Olahraga
Fajar/Fikri Belum Puas mesk...
Advertisement
2,4 Ton Dry Ice Dijatuhkan dalam Uji Coba Penanggulangan Kabut Asap di Sumatera Selatan

2,4 Ton Dry Ice Dijatuhkan dalam Uji Coba Penanggulangan Kabut Asap di Sumatera Selatan

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.