Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

TPS3R Belum Maksimal, Jakarta Masih Bergantung pada Bantargebang

📅 Kamis, 06 Agu 2026, 18:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
TPS3R Belum Maksimal, Jakarta Masih Bergantung pada Bantargebang Doc: Istimewa.
Ket. Anggota Komisi D DPRD Fraksi PKS DKI Jakarta, Hj. Nabilah Aboebakar Alhabsyi (kiri) saat kunjungan ke salah satu Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Jakarta.

JAKARTA — Penguatan pengelolaan sampah di tingkat hulu menjadi prasyarat utama untuk mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Selama Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) masih terkendala oleh keterbatasan fasilitas, kapasitas sumber daya manusia, dan sistem operasional yang belum terintegrasi, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir akan tetap tinggi.

Anggota Komisi D DPRD Fraksi PKS DKI Jakarta, Hj. Nabilah Aboebakar Alhabsyi, M.Si., menilai pengelolaan sampah di tingkat wilayah melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Temuan tersebut diperoleh saat kunjungan Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta ke salah satu TPS3R.

Menurut Nabilah, Jakarta tidak akan mampu mengurangi ketergantungan terhadap TPST Bantargebang apabila pengolahan sampah di tingkat hulu belum diperkuat. Padahal, pemerintah telah menetapkan kondisi darurat pengelolaan sampah yang seharusnya direspons dengan penguatan sistem di tingkat wilayah.

"Kita ingin penyelesaian sampah dimulai dari wilayah masing-masing. Namun faktanya, fasilitas, sumber daya manusia, dan sistem pendukung di TPS3R masih jauh dari memadai," ujar Nabilah dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (6/8).

Dalam peninjauan tersebut, Nabilah mendorong agar pemerintah tidak lagi menerapkan pendekatan yang terlalu terpusat. Menurutnya, persoalan sampah di Jakarta Selatan belum tentu sama dengan Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, maupun Jakarta Pusat. Karena itu, setiap wilayah perlu memiliki ruang untuk membangun inovasi pengolahan sampah sesuai kebutuhan lokal.

"Kasudin Lingkungan Hidup di setiap wilayah harus diberikan kewenangan dan anggaran yang cukup. Dengan begitu, mereka tidak hanya bertugas mengangkut sampah, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata di tingkat wilayah. Kalau hulunya kuat, beban Bantargebang akan berkurang secara signifikan," katanya.

Ia pun kemudian menemukan masih adanya petugas yang bekerja tanpa alat pelindung diri (APD) lengkap, seperti masker, sarung tangan, dan helm. Selain itu, jumlah tenaga pemilah dinilai masih sangat terbatas sehingga proses pemilahan sampah belum berjalan optimal.

Ia menyoroti masih rendahnya pemahaman petugas lapangan mengenai klasifikasi sampah. Bahkan, salah satu petugas pengangkut sampah mengaku belum memahami perbedaan antara sampah residu dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

"Ini menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga kapasitas sumber daya manusianya. Petugas harus dibekali pelatihan yang memadai agar proses pemilahan berjalan sesuai standar," katanya.

Politisi muda ini kemudian menambahkan, kapasitas operasional TPS3R juga masih terbatas. Saat ini pengangkutan sampah dari wilayah ke TPS3R umumnya baru dilakukan sekitar satu ritase per hari, sehingga belum mampu mengimbangi volume sampah yang terus meningkat.

Menurutnya, status darurat sampah yang dihadapi Jakarta harus diikuti dengan investasi nyata pada pengolahan di hulu, mulai dari peningkatan fasilitas TPS3R, penambahan tenaga pemilah, penyediaan APD, hingga penguatan edukasi dan pelatihan bagi petugas.

"Jangan sampai kita terus berbicara soal darurat sampah, tetapi fasilitas dan sistem pengolahannya masih belum siap. Kalau hulu tidak diperkuat, maka beban di hilir akan terus bertambah," tegas Nabilah.

Terakhir, ia berharap hasil kunjungan Pansus menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mempercepat penguatan TPS3R sebagai garda terdepan dalam penyelesaian persoalan sampah di tingkat wilayah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Fenomena Langit Agustus 2026: Gerhana Matahari Total, Hujan Meteor, Blood Moon hingga 6 Planet Sejajar
    Preview komentar:
    Membaca rangkuman fenomena langit Agustus 2026 di artikel ...
  • Ekonom Optimistis Sektor Infrastruktur Telko Tetap Bersinar dalam Lima Tahun Mendatang
    Preview komentar:
  • Tantangan Sekolah Swasta: Persaingan Semakin Berat
    Preview komentar:
    Lanjudkan tetap setia hadir untuk melayani
Advertisement
gaia musik festival
Nasional
Kemenbud: Museum Musik Indo...
Nasional
Menkes Serukan Perbaiki Seg...
Nasional
Gratis, Kemenag Terbitkan 4...
Nasional
Selama 2025 PT KAI Kelola 2...
Anak Fandi Ahmad Siap Mengobrak-abrik Pertahanan Skuad Garuda   

Anak Fandi Ahmad Siap Mengobrak-abrik Pertahanan Skuad Garuda  

06 Aug 2026
Pilihan Pembaca
# 6
Berpotensi Melemah, 6 Agustus 2026
📅 Kamis, 06-Agu-2026
# 6
Berpotensi Melemah, 6 Agustus 2026
📅 Kamis, 06-Agu-2026
Berpotensi Melemah, 6 Agustus 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.