KSSK: Konflik Geopolitik Memanas, Sistem Keuangan RI Tetap Tahan Guncangan
📅 Senin, 03 Agu 2026, 17:50 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Stabilitas sistem keuangan menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi karena mencerminkan kemampuan sektor keuangan menjalankan fungsi intermediasi, pengelolaan risiko, dan sistem pembayaran secara efektif.
Di tengah ketidakpastian global, ketahanan perbankan, likuiditas yang memadai, serta terjaganya kualitas kredit menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan pelaku usaha dan investor.
Namun, stabilitas tersebut tetap perlu diwaspadai dari berbagai risiko eksternal, seperti gejolak pasar keuangan global, tekanan nilai tukar, dan perlambatan ekonomi dunia, sehingga sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan pengawasan sektor keuangan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai kondisi fiskal, moneter dan sektor keuangan selama triwulan II 2026 tetap terjaga di tengah konflik geopolitik yang kembali meningkat, didukung koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas.
“Memasuki triwulan II 2026, tekanan eksternal kembali meningkat, seiring eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi tinggi, volatilitas pasar keuangan global, serta tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal,” kata Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK di Jakarta, Senin (3/8).
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski tekanan eksternal kembali meningkat, Purbaya menambahkan bahwa perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid dan ketahanan sektor keuangan yang terjaga.
“Dengan perkembangan tersebut, risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dipandang perlu terus diwaspadai untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” kata Purbaya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perekonomian global pada triwulan II 2026 masih menghadapi tantangan seiring ketidakpastian konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada gangguan pasokan energi, kenaikan harga minyak dan komoditas strategis, serta meningkatnya risiko terhadap kelancaran perdagangan dan rantai pasok global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kondisi tersebut mendorong tekanan inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter di sejumlah negara maju.
Di Amerika Serikat (AS), ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) meningkat seiring kenaikan risiko inflasi serta ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan fisikal yang turut menahan sentimen pelaku pasar.
Di pasar keuangan, volatilitas masih cukup tinggi dan perilaku flight to safety kembali menguat, tecemin dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi serta tekanan terhadap aliran modal di negara berkembang.
Memasuki bulan Juli 2026, risiko global kembali meningkat seiring berlanjutnya konflik AS-Iran. Lalu lintas di Selat Hormuz yang sempat membaik setelah interim deal antara AS dan Iran pada pertengahan Juni 2026 kembali terhambat pasca-reeskalasi intensitas perang antara AS dan Iran pada awal Juli 2026.
IMF dalam publikasi World Economic Outlook Update edisi Juli 2026 memprakirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3 persen (year on year/yoy) pada 2026, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi April 2026 sekitar 3,1 persen (yoy) di tengah inflasi global yang kembali meningkat.
Di sisi lain, ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2026 diprakirakan tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!