Suara Anak Indonesia Amanat Konstitusi
📅 Jumat, 24 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh: Redaktur PelaksanaPertanyaan-pertanyaan besar itulah yang menjadi fokus dan tanggung jawab bagi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk anak-anak Indonesia ke depannya. Lantas bagaimana KemenPPPA mewujudkan segala harapan besar terkait anak-anak Indonesia tersebut. Wartawan Koran Jakarta, Fredrikus W Sabini berkesempatan mewawancarai Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam sejumlah kesempatan. Berikut petikannya?

KORAN JAKARTA/M. FACHRI
Bagaimana KemenPPPA melihat persoalan anak di Indonesia?
Kita harus sadari bahwa keberhasilan pembangunan pada akhirnya harus tercermin dalam kualitas hidup manusia, terutama anak-anak. Dengan kata lain, keberhasilan sebuah kebijakan bukan hanya diukur dari terserapnya anggaran, melainkan dari sejauh mana kebijakan itu menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Membangun masa depan anak bukan hanya tugas keluarga. Ia juga bukan semata tanggung jawab pemerintah. Keluarga menanamkan kasih sayang dan nilai-nilai kehidupan. Sekolah membentuk pengetahuan dan karakter, Masyarakat menciptakan lingkungan yang aman. Media membangun cara pandang publik terhadap anak. Dunia usaha menghadirkan ekosistem yang lebih ramah anak. Pemerintah memastikan kebijakan, layanan, dan anggaran berpihak kepada kepentingan terbaik anak.
Bagaimana Strateginya?
Strateginya tentu dengan berkolaborasi. Kolaborasi inilah yang menjadi roh tema Hari Anak Nasional tahun ini. Tidak ada satu institusi pun yang mampu melindungi anak sendirian. Perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif seluruh bangsa.
Selain itu, KemenPPPA juga mendorong agar Suara Anak Indonesia (SAI) dapat menjadi fondasi penting dalam menentukan arah kebijakan pemerintah yang mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak.Kami berharap apa yang disampaikan oleh anak-anak secara langsung akan mengubah dan menghasilkan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak kita. Suara anak ini adalah amanat konstitusi. Jadi, mendengarkan suara anak bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah kewajiban bagi negara dan menjadi tanggung jawab bersama.
Apa yang telah dilakukan untuk hal tersebut?
KemenPPPA telah menerima dokumen Berita Acara Suara Anak Indonesia (SAI) dari perwakilan Forum Anak Nasional (FAN) dalam Penutupan Lokakarya FAN 2026. Dokumen ini merupakan rangkuman aspirasi, kebutuhan, serta harapan anak dari tingkat desa/kelurahan terhadap lingkungan yang lebih aman, sehat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang mereka.
Saya sangat terharu dengan apa yang telah dilakukan oleh anak-anak dari seluruh Indonesia, mulai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, sampai nasional. Suara anak-anak ini bukan hanya untuk didengarkan, tetapi butuh kerja dan aksi nyata dari pemangku kepentingan di seluruh Indonesia. Calon-calon pemimpin masa depan memang harus tahu apa yang terjadi di lapangan dan apa yang mereka rasakan, dan ini telah dilakukan oleh anak-anak kita dalam penyusunan SAI.
SAI dibacakan pada puncak peringatan Hari Anak Nasional di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau dan pada Festival Budaya Anak di Makara Art Center Universitas Indonesia, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.
Di sini ada poin penting bagaimana kita belajar menghargai dan menghormati pendapat orang lain sehingga menjadi satu kesimpulan bersama, hingga akhirnya kita mendapatkan SAI Tahun 2026.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!