Stabilitas Amerika Serikat-Tiongkok Dinilai Jadi Kunci Perdagangan Global
📅 Rabu, 30 Sep 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiBeijing - Para pengamat menilai stabilitas hubungan Amerika Serikat (AS) - Tiongkok tidak hanya penting bagi kepentingan kedua negara, tetapi juga bagi dunia karena dapat memberikan kepastian lebih besar bagi perdagangan dan perekonomian global.
Kunjungan kenegaraan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke AS yang baru berakhir dinilai menghasilkan kemajuan dalam upaya membangun hubungan kedua negara dengan stabilitas strategis yang konstruktif, berdasarkan prinsip saling menghormati, keadilan, dan timbal balik.
Dalam pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada Kamis (24/9), Xi menyerukan agar visi tersebut diterjemahkan ke dalam tindakan nyata serta agar kedua negara menemukan cara yang tepat untuk hidup berdampingan secara damai.
"Hal ini sejalan dengan aspirasi bersama komunitas internasional yang mendambakan stabilitas, karena hubungan Tiongkok-AS yang stabil akan membantu menopang perdamaian dan stabilitas global. Hal ini juga akan membantah anggapan bahwa 'Perangkap Thucydides' merupakan sesuatu yang tak terhindarkan dalam pengelolaan hubungan Tiongkok-AS," kata Ong Tee Keat, Presiden Kaukus Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra untuk Asia-Pasifik.
Dikutip dari Antara, menurut akademisi Malaysia tersebut, semakin disadari oleh kedua negara bahwa mereka perlu saling mengakomodasi dalam dinamika hubungan saat ini. Karena itu, koeksistensi damai menjadi titik temu yang perlu dijunjung bersama.
Azmi Hassan, peneliti senior pada lembaga pemikir Malaysia, Nusantara Academy for Strategic Research, sependapat. Dia mengatakan hubungan yang baik antara Tiongkok dan AS tidak hanya menguntungkan kedua negara, tetapi juga dunia.
"Hal ini tidak hanya berlaku dalam bidang perdagangan, tetapi juga dalam konteks geopolitik, yang memungkinkan kedua belah pihak dan seluruh dunia memperoleh manfaat," katanya.
Sementara itu, Kenneth Quinn, Presiden Emeritus World Food Prize Foundation sekaligus mantan Duta Besar AS untuk Kamboja, mengatakan Tiongkok dan AS perlu bergerak ke arah hubungan yang positif sebagai mitra, bukan menjadi pihak yang saling bermusuhan.
"Saya yakin sangat penting bagi AS dan Tiongkok untuk bergerak ke arah yang positif sebagai mitra, bukan bergerak ke arah yang menjadikan mereka sebagai pihak yang saling bermusuhan," ujar Quinn.
Quinn (84), yang selama beberapa dekade memimpin pertukaran antara Negara Bagian Iowa di AS dan Tiongkok, mengatakan tujuan utama hubungan kedua negara adalah mempertahankan "stabilitas strategis yang konstruktif" serta menghindari volatilitas dan lonjakan besar dalam tarif maupun rencana pengenaan tarif.
"Tujuan nomor satu" adalah agar hubungan Tiongkok-AS terus mempertahankan "stabilitas strategis yang konstruktif" dan "tidak mengalami volatilitas, naik turun, serta lonjakan besar dalam tarif dan rencana pengenaan tarif," katanya.
Hubungan yang Konstruktif
Bruce McLaughlin, CEO Sinogie Consulting Group di Australia, mengatakan stabilisasi hubungan Tiongkok-AS merupakan langkah penting untuk menciptakan hubungan yang konstruktif.
"Presiden Xi benar sekali bahwa menstabilkan hubungan Tiongkok-AS sangatlah penting. Membangun hubungan yang konstruktif akan lebih baik lagi," tutur McLaughlin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!