Investasi Jumbo Mengalir, Indonesia dan Tiongkok Kunci Kesepakatan 2 Miliar Dolar AS
📅 Kamis, 23 Jul 2026, 19:15 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) agrivoltaik menawarkan pendekatan inovatif dengan menggabungkan produksi energi terbarukan dan aktivitas pertanian pada lahan yang sama.
Model ini memungkinkan pemanfaatan lahan yang lebih efisien, di mana panel surya menghasilkan listrik sekaligus memberikan naungan yang dapat mengurangi penguapan air dan mendukung pertumbuhan tanaman tertentu.
Jika diterapkan secara tepat, agrivoltaik tidak hanya memperkuat ketahanan energi dan pangan secara bersamaan, tetapi juga membuka sumber pendapatan tambahan bagi petani serta mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Indonesia dan Tiongkok menandatangani tiga nota kesepahaman (MoU) dengan nilai ekonomi sekitar 2 miliar dolar AS atau setara Rp36 triliun dalam Indonesia-Tiongkok Partnership Forum di Jakarta, Kamis (23/7).
Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun mengatakan salah satu kerja sama tersebut berupa pembangunan PLTS agrivoltaik berkapasitas 300 megawatt (MW) di Sumatera Utara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Proyek PLTS agrivoltaik tersebut menjadi salah satu proyek energi hijau terbesar di Sumatera Utara dengan nilai investasi sekitar 1,35 miliar dolar AS.
Selain proyek energi hijau, Indonesia dan Tiongkok juga menandatangani kerja sama di sektor industri makanan dan minuman antara PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk dan Guangxi G. Taste Food Co., Ltd.
Penandatanganan MoU juga dilakukan antara PT Telkom Properti Indonesia dan PT CNEC Engineering Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara keseluruhan, tiga MoU yang diteken memiliki nilai ekonomi sekitar 2 miliar dolar AS.
Dalam sambutannya pada Indonesia-Tiongkok Partnership Forum, Djauhari mengatakan Indonesia terus memperkuat iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, perbaikan ekosistem usaha, pemberian kepastian hukum bagi investor, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang semakin terbuka dan kompetitif.
Menurut dia, pemerintah menyambut investasi berkualitas yang membawa teknologi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat industri nasional, serta menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Djauhari juga menilai sektor energi hijau dan teknologi masa depan menjadi dua bidang yang memiliki prospek besar untuk memperkuat kemitraan Indonesia dan Tiongkok.
Indonesia, kata dia, terus memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan, mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, memperkuat industri baterai, serta membangun kawasan industri hijau.
Di bidang teknologi, Indonesia ingin menjadi mitra produktif dalam pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), manufaktur cerdas (smart manufacturing), industri digital, teknologi hijau, dan otomatisasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!