Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Seperti di Jepang, IDAI Usul MBG Dimasak di Kantin Sekolah Agar Lebih Fresh dan Aman Dikonsumsi

25 Sabtu, 12 Sep 2026, 10:08 WIB | Oleh: Tim Penulis
Seperti di Jepang, IDAI Usul MBG Dimasak di Kantin Sekolah Agar Lebih Fresh dan Aman Dikonsumsi Seperti di Jepang, IDAI Usul MBG Dimasak di Kantin Sekolah Agar Lebih Fresh dan Aman Dikonsumsi Doc: ANTARA
Ket. Sejumlah murid menikmati makan bergizi gratis (MBG) di SDN 35 Padang Sarai, Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, Selasa (23/9/2025)

JAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengusulkan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimasak dan disajikan di kantin sekolah guna memastikan keamanan pangan, bukan dengan menjadikan guru mencicipi makanan sebagai satu cara memastikan keamanan pangan.

"Standar keamanan pangan itu sangat ketat dan tidak bisa ditawar-tawar lagi," kata Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso di Jakarta, Jumat.

Menurutnya, dengan memasak MBG di kantin sekolah, makanan yang disajikan lebih hangat atau segar saat dihidangkan. Selain itu, konsep penyajiannya bisa dibentuk sesuai selera anak agar mau dimakan, contohnya prasmanan.

Hal itu dia sampaikan merespons kejadian keracunan yang berulang kali terjadi pada program nasional itu. Dia mengatakan bagi sebagian orang, kejadian-kejadian itu mungkin dipandang sekedar angka statistik, namun masalah itu membuat orang tua sangat sedih.

Menurutnya, niat yang mulia, yakni memberi gizi pada anak-anak, perlu dibarengi dengan upaya untuk memastikan makanan yang dikonsumsi aman dan memenuhi standar.

Oleh karena itu, dia merekomendasikan untuk meninjau ulang konsep MBG, mengevaluasi secara objektif dan menyeluruh.

Senada dengan Piprim, Prof Dr Damayanti Rusli dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI mengatakan keracunan pangan disebabkan oleh dua hal, pertama food-based hazard yang datang dari paparan kimia, fisik pada makanan. Contohnya bakteri, jamur, cacing, pestisida.

"Yang kedua adalah si orang sendiri, orang tersebut yang menyebabkan hazardnya tadi. Jadi, bisa dari makanannya, bisa dari perilakunya untuk mengolah makanan," katanya.

Dia mencontohkan mencampurkan makanan mentah dengan makanan yang sudah masak, temperatur penyimpanan makanan yang salah, bahan yang kurang bersih pencuciannya.

Menurut data 2015 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari 10 orang mengalami keracunan makanan. Dia mengingatkan bahwa keracunan dapat menyebabkan kematian.

"Nah, siapa yang sangat sensitif terhadap keracunan tersebut? Satu adalah lansia, kemudian anak-anak di bawah 5 tahun. Jadi, nanti kalau MBG-nya sudah masuk ke 3B, ini lebih lagi, risikonya lebih besar. Kemudian orang-orang yang daya tahan tubuhnya rendah," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta

Topan Champi Terjang Taiwan

17 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Topan Champi Terjang Taiwan
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
MotoGP Australia di Phillip Island Dibatalkan akibat Cuaca Buruk, Marquez Gagal Perlebar Keunggulan

MotoGP Australia di Phillip Island Dibatalkan akibat Cuaca Buruk, Marquez Gagal Perlebar Keunggulan

25 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.