Terapi Gen dan Gunting Molekuler, Buka Harapan Baru Kesembuhan HIV
📅 Rabu, 22 Jul 2026, 07:27 WIB | Oleh: Haryo BronoPeraih Nobel Dr. David Baltimore menilai pendekatan tersebut sudah dapat dianggap sebagai kemenangan besar dalam penelitian HIV. Menurutnya, apabila pasien dapat hidup tanpa obat harian, terbebas dari komplikasi HIV, serta memiliki kemampuan penularan yang sangat kecil, maka tujuan utama terapi sebenarnya telah tercapai meskipun virus belum sepenuhnya hilang.
Menutup “Pintu Masuk”
Salah satu strategi yang paling menjanjikan adalah menghilangkan reseptor CCR5 pada permukaan sel T. CCR5 berfungsi sebagai “pintu masuk” yang digunakan HIV untuk menginfeksi sel kekebalan tubuh.
Peneliti dari University of Southern California, Dr. Paula Cannon, menjelaskan bahwa sel pasien dapat diambil, kemudian gen CCR5 dihilangkan di laboratorium sebelum sel tersebut dikembalikan ke dalam tubuh. Dengan cara ini, sel-sel baru menjadi kebal terhadap HIV sehingga virus kehilangan akses untuk menginfeksi sistem kekebalan tubuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gunting Molekuler
Untuk melakukan perubahan genetik tersebut, para peneliti memanfaatkan teknologi penyuntingan gen (gene editing). Selain menggunakan virus yang telah dimodifikasi sebagai pembawa gen (viral vector), para ilmuwan juga mengembangkan berbagai teknologi “gunting molekuler” berupa enzim nuklease yang mampu memotong DNA secara sangat presisi.
Salah satu teknologi yang paling banyak mendapat perhatian adalah CRISPR/Cas9, yang memungkinkan penyuntingan gen berlangsung lebih akurat dibandingkan metode sebelumnya. Teknologi ini dinilai berpotensi menghasilkan terapi gen yang lebih aman dan efektif karena perubahan hanya dilakukan pada bagian DNA yang diinginkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Antibodi Alami
Selain mengubah gen CCR5, pendekatan lain yang juga dikembangkan adalah merekayasa tubuh agar mampu memproduksi broadly neutralizing antibodies (bNAbs), yaitu antibodi penetral yang mampu melawan berbagai jenis HIV.
Secara alami tubuh memang menghasilkan antibodi terhadap HIV, tetapi biasanya muncul terlalu lambat karena virus terus bermutasi. Melalui terapi gen, ilmuwan berharap antibodi kuat tersebut dapat diproduksi sejak awal sehingga mampu mencegah infeksi atau membantu mengendalikan virus pada pasien yang sudah terinfeksi.
Sebagian besar pendekatan tersebut masih berada pada tahap penelitian praklinis menggunakan hewan percobaan. Meski demikian, sejumlah uji klinis awal telah dimulai untuk menguji keamanan terapi gen pada manusia.
Para peneliti menegaskan bahwa seluruh penelitian dilakukan secara sangat hati-hati karena teknologi terapi gen masih tergolong baru dan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dapat digunakan secara luas.
Meski perjalanan menuju obat HIV yang benar-benar menyembuhkan masih panjang, perkembangan terapi gen, penyuntingan gen menggunakan CRISPR, serta rekayasa sistem imun menunjukkan bahwa dunia kini semakin dekat pada era baru pengobatan HIV yang tidak lagi hanya menekan virus, tetapi berpotensi mengendalikannya dalam jangka panjang, bahkan suatu hari nanti menghilangkannya sepenuhnya. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!