Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Setop Tergantung Impor! Pakar: RI Bisa Mandiri Kalau Bangun Industri dari Hulu Dulu

📅 Jumat, 17 Jul 2026, 07:38 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Setop Tergantung Impor! Pakar: RI Bisa Mandiri Kalau Bangun Industri dari Hulu Dulu Doc: istimewa
Ket. Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, YB. Suhartoko menilai strategi industrialisasi substitusi impor perlu didorong untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap barang luar negeri, sekaligus menyerap tenaga kerja dan menguatkan daya beli masyarakat

Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, YB. Suhartoko menilai strategi industrialisasi substitusi impor perlu didorong untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap barang luar negeri, sekaligus menyerap tenaga kerja dan menguatkan daya beli masyarakat.

Ia mencatat, struktur impor Indonesia saat ini masih didominasi produk-produk penunjang industri. "Barang impor Indonesia didominasi oleh mesin, suku cadang, dan bahan baku industri," ujar Suhartoko, Jumat (17/7).

Lima kelompok barang impor terbesar

Menurut Suhartoko, ada lima kelompok besar produk impor yang masih mendominasi seperti peralatan mekanik elektronik, mesin pabrik, komputer, smartphone, dan peralatan rumah tangga.

Kedua, kendaraan & suku cadang seperti mobil, sepeda motor, serta komponen perakitan kendaraan. Ketiga, bahan pangan seperti gandum, gula mentah, kedelai, jagung, daging, dan bawang putih.

Keempat, bahan baku industri seperti besi, baja, bahan kimia, plastik, dan pupuk dan kelima, produk energi seperti minyak mentah dan gas alam untuk kebutuhan bahan bakar. "Beberapa produk impor ini sebenarnya bisa kita produksi dengan membangun industri substitusi impornya," katanya.

Namun, Suhartoko mengingatkan ada sejumlah kendala yang harus diperhitungkan sebelum membangun industri substitusi impor.

"Kendalanya antara lain ketergantungan pada bahan baku dan teknologi luar negeri, biaya produksi tinggi yang menekan daya saing, kurangnya infrastruktur industri hulu, serta pasar yang sering kali lebih memilih produk impor," jelasnya. Dan yang perlu diingat kata dia, substitusi impor umumnya padat modal kecuali produk pertanian.

Untuk meminimalkan kendala tersebut, Suhartoko menekankan perlunya strategi terukur. "Sebelum membangun industri substitusi impor harus mampu memproduksi bahan baku terlebih dahulu. Lalu lakukan perencanaan jangka pendek untuk penguasaan teknologi, bangun sistem industri yang efisien, dan secara simultan bangun industri hulunya. Yang tidak kalah penting, edukasi efektif agar konsumen domestik mencintai produk dalam negeri," urainya.

Ia mencontohkan kegagalan sejumlah negara yang menerapkan strategi serupa. Negara-negara di Amerika Latin seperti Brasil dan Argentina pada pertengahan abad ke-20 disebut gagal membangun industrialisasi substitusi impor.

"Kegagalannya umumnya disebabkan oleh kebijakan proteksionisme yang berlebihan seperti tarif tinggi. Itu menciptakan industri domestik yang tidak efisien, memonopoli pasar, dan membebani konsumen dengan harga mahal tanpa mampu bersaing di pasar global," kata Suhartoko.

Kegagalan substitusi impor lanjuti dia memunculkan industri orientasi ekspor yang memunculkan macan asia seperti Korea, Taiwan, dan Singapura.

Menurutnya, kunci substitusi impor yang berhasil adalah efisiensi. Industri dalam negeri harus mampu menghasilkan produk dengan harga kompetitif dan kualitas setara impor, sehingga benar-benar bisa menyerap pekerja dan mendorong daya beli, bukan justru membebani konsumen.

"Substitusi impor bukan berarti menutup diri. Tapi bagaimana kita secara bertahap membangun kemandirian, dari hulu ke hilir, agar nilai tambah ekonomi tetap tinggal di Indonesia," pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
  • Pria tanpa identitas Tewas Tersengat Listrik saat Curi Kabel LRT
    Wajar sih kalau mati, justru aneh klo tidak ...
  • Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
    Meskipun data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 ...
  • Kawasan Industri Tak Lagi Kompetitif, Investor Mulai Melirik Vietnam
    Meskipun banyak pabrik di Indonesia kini mulai beralih ...
Nasional
Mabes TNI Gelar Peringatan ...
Advertisement
Ratusan Petani Tebu Gelar Aksi Dekat Istana Negara, Tuntut Kenaikan HPP dan Hapus HET Gula

Ratusan Petani Tebu Gelar Aksi Dekat Istana Negara, Tuntut Kenaikan HPP dan Hapus HET Gula

02 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.