Inggris Miliki Strategi Matikan Gerak Messi
📅 Rabu, 15 Jul 2026, 06:37 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraATLANTA – Semifinal Piala Dunia kembali mempertemukan dua raksasa sepak bola dengan sejarah panjang penuh drama. Inggris dan Argentina akan berhadapan di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Kamis (16/7) dini hari WIB, dalam laga yang menawarkan lebih dari sekadar tiket menuju final. Pertandingan ini menjadi persimpangan dua generasi: Inggris yang dipimpin Jude Bellingham tengah memburu era kejayaan baru, sementara Argentina berusaha menjaga dominasi dunia sekaligus memperpanjang kisah Lionel Messi.
Bagi Inggris, kemenangan akan mengakhiri penantian hampir enam dekade untuk kembali tampil di final Piala Dunia sejak terakhir menjadi juara pada tahun 1966. Sebaliknya, Argentina mengincar final ketiga dalam empat edisi terakhir sekaligus membuka peluang menjadi negara pertama yang mampu mempertahankan gelar Piala Dunia sejak Brasil melakukannya pada tahun 1962.
Rivalitas kedua negara selalu menyimpan dimensi yang lebih besar daripada sepak bola. Publik masih mengingat gol kontroversial “Hand of God” Diego Maradona pada perempat final Piala Dunia 1986 yang mengantarkan Argentina menuju gelar juara. Empat tahun kemudian, Inggris membalas lewat adu penalti di Italia, sebelum duel panas pada 1998 di Prancis diwarnai kartu merah David Beckham setelah insiden dengan Diego Simeone.
Kini, hampir tiga dekade kemudian, rivalitas klasik itu memasuki babak baru dengan wajah berbeda. Maradona telah menjadi legenda, Beckham telah lama pensiun, sementara sorotan kini tertuju kepada Messi dan Bellingham sebagai simbol dua generasi.
Pelatih Argentina Lionel Scaloni memilih meredam berbagai narasi di luar lapangan yang selalu menyertai pertemuan kedua negara. “Ini adalah pertandingan sepak bola. Hanya itu yang perlu kami pikirkan,” ujar Scaloni setelah Argentina menyingkirkan Swiss 3-1 pada babak perempat final.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski berstatus juara bertahan, perjalanan Albiceleste menuju semifinal jauh dari kata mudah. Seusai melaju mulus dari fase grup, Argentina dipaksa bekerja keras dalam tiga pertandingan berturut-turut. Mereka membutuhkan perpanjangan waktu saat mengalahkan Tanjung Verde 3-2, bangkit dari ketertinggalan untuk menundukkan Mesir 3-2 di Atlanta, lalu kembali memainkan babak tambahan sebelum memastikan kemenangan 3-1 atas Swiss yang tampil dengan 10 pemain.
Meski gagal mencetak gol untuk pertama kalinya setelah sembilan penampilan beruntun di Piala Dunia, Messi tetap menjadi motor permainan Argentina. Lebih penting lagi, Albiceleste memperpanjang rekor tidak terkalahkan menjadi 12 pertandingan di putaran final sejak kekalahan mengejutkan dari Arab Saudi pada tahun 2022.
“Skuad ini tidak pernah lelah menciptakan sejarah. Kami selalu ingin lebih. Setelah menjadi juara dunia, kami tetap memiliki semangat untuk kembali bersaing di level tertinggi,” ujar Messi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Inggris menempuh jalur yang tak kalah dramatis. Setelah membuka turnamen dengan kemenangan meyakinkan 4-2 atas Kroasia, performa The Three Lions sempat naik turun. Namun setiap laga fase gugur justru menunjukkan karakter mereka.
Harry Kane menjadi penyelamat saat Inggris membalikkan keadaan untuk mengalahkan Republik Demokratik Kongo 2-1. Mereka kemudian bertahan dengan 10 pemain ketika menyingkirkan Meksiko 3-2 di Stadion Azteca, sebelum Jude Bellingham kembali menjadi pembeda lewat dua gol, termasuk gol kemenangan pada babak perpanjangan waktu saat menundukkan Norwegia 2-1.
Performa impresif Bellingham menjadi alasan utama Inggris kini menembus semifinal keempat dalam lima turnamen besar terakhir. Di usia muda, gelandang Real Madrid itu menjelma sebagai pusat permainan sekaligus wajah baru sepak bola Inggris.
Namun, tantangan terbesar kini menanti. Di seberang lapangan berdiri Messi, pemain yang selama hampir dua dekade menjadi ikon sepak bola dunia. Menariknya, semifinal ini akan menjadi pertemuan pertama Messi menghadapi Inggris di level internasional.
“Saya sudah menghadapi hampir semua tim besar, kecuali Inggris. Mereka adalah salah satu kekuatan sepak bola dunia dan sangat menyenangkan bisa bertemu mereka di semifinal Piala Dunia,” ujar pemain berusia 39 tahun itu.
Kiper Inggris Jordan Pickford menegaskan timnya tidak boleh terjebak hanya memikirkan Messi. “Semua orang tahu kualitas Messi, tetapi Argentina bukan hanya tentang dirinya. Kami harus mewaspadai kekuatan mereka secara keseluruhan dan memanfaatkan setiap kelemahan yang ada,” ujar Pickford.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!