Indonesia Pamerkan Sagu Papua dan Pisang Mas Kirana di Markas FAO, Bukti Pertanian Cerdas Berkelanjutan
📅 Jumat, 03 Jul 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Jakarta - Upaya Indonesia untuk membangun sistem agripangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan menjadi sorotan utama di markas besar Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) di Roma, Italia, melalui pameran kuliner “Flavours of the Archipelago: From Smart Farms to Diverse Foods”.
Bertempat di Foods Lab, FAO Museum, Rabu (1/7), kegiatan ini diselenggarakan bersama oleh KBRI Roma dan Kantor Perwakilan FAO di Indonesia sebagai bagian dari Konferensi Global FAO tentang Pertanian Cerdas.
“Keanekaragaman Indonesia yang luar biasa tercermin dalam kekayaan budaya dan tradisinya, termasuk dalam tradisi kuliner dan pertanian kita,” ujar Duta Besar RI untuk Italia dan PBB di Roma Junimart Girsang dalam keterangannya, Kamis (2/7).
Dubes Girsang menekankan bahwa sistem pangan dan pertanian yang kuat merupakan fondasi untuk membangun masyarakat yang tangguh.
Menurut dia, Indonesia percaya bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Inovasi dapat memanfaatkan pengetahuan lokal, warisan, dan tradisi untuk membangun sistem pangan yang lebih kuat dan berkelanjutan yang lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan penduduk sekitar 290 juta orang, Indonesia menghadapi kebutuhan yang semakin meningkat untuk memajukan sistem agripangan, yakni dengan mendorong petani untuk mengadopsi solusi pertanian cerdas.
Direktur Divisi Produksi dan Perlindungan Tanaman FAO Yurdi Yasmi menyebutkan berbagai tantangan agripangan global yang kini kian mendesak, di antaranya perubahan iklim, degradasi tanah dan air, kenaikan harga alat dan bahan seperti pupuk, serta berbagai kendala yang dihadapi tenaga kerja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Banyak negara di dunia, termasuk Indonesia, kini menghadapi tantangan yang sama.
“Pertanian cerdas menjadi solusi di tengah berbagai tantangan yang tengah dihadapi sektor pangan dan pertanian. Dengan memanfaatkan data terkini, berbagai teknologi, intervensi yang mengedepankan presisi, serta otomatisasi, kita dapat mengambil keputusan yang lebih tepat untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Yasmi.
Sama halnya dengan makanan yang membutuhkan keseimbangan antara bumbu dan bahan, katanya, pertanian cerdas juga membutuhkan perpaduan yang seimbang antara sains, inovasi, dan pengetahuan masyarakat lokal.
“Tentunya dengan memperhatikan kondisi pertanian, lingkungan, ekonomi dan sosial masyarakat setempat,” ujar dia.
Sagu Papua dan pisang Mas Kirana Jawa Timur
Dalam kegiatan ini, ditampilkan juga berbagai kisah sukses produksi pangan dari berbagai daerah yang dibina melalui program-program kerja sama pemerintah Indonesia dan FAO, seperti produsen sagu di Provinsi Papua, desa perikanan cerdas di Jawa Barat, para petani yang membudidayakan cabai di Pulau Sumatera, dan petani pisang yang mendapat manfaat dari pertanian presisi di Jawa Timur.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!