Ditinggal Panda Raksasa ke Tiongkok, Kota Shirahama Jepang Cari Cara Baru Gaet Wisatawan
📅 Selasa, 30 Jun 2026, 01:35 WIB | Oleh: AlfredJAKARTA - Otoritas pariwisata Kota Shirahama di Prefektur Wakayama, Jepang, tengah memutar otak untuk membangkitkan kembali sektor ekonomi daerah setelah ditinggalkan empat ekor panda raksasa ikonik ke Tiongkok, Minggu (28/6).
Dikutip dari Kyodo, Minggu (28/6) waktu setempat, sebanyak empat ekor panda betina yakni Rauhin dan anak-anaknya, Yuihin, Saihin, dan Fuhin meninggalkan taman hiburan Adventure World di Kota Shirahama, Prefektur Wakayama pada tanggal 28 Juni 2025, menuju Tiongkok, berdasarkan ketentuan program penelitian perkembangbiakan bersama yang dimulai pada tahun 1994.
Seorang pejabat dari asosiasi pariwisata setempat mengatakan bahwa kota tersebut memiliki sumber daya pariwisata yang kuat yang dapat dimanfaatkan.
"Meskipun jumlah pengunjung keluarga menurun karena (kepergian) panda, banyak wisatawan telah berulang kali mengunjungi kota ini untuk menikmati pemandian air panas," kata seorang pejabat yang tak disebutkan namanya.
Selama kurang lebih 30 tahun, fasilitas tersebut berhasil membesarkan 17 anak beruang, jumlah terbesar di luar China.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Adventure World berupaya memanfaatkan sebaik mungkin hewan-hewan lain yang ada di fasilitas tersebut, termasuk singa, gajah, harimau, lumba-lumba, dan penguin.
Menghadirkan ide-ide baru, yang memungkinkan pengunjung melihat pinguin menikmati pemandangan dari sudut pandang pinguin dari sofa beanbag.
Adapun tempat ini juga memiliki 10 kafe dengan pengunjung dapat melihat berbagai hewan dari dekat. Menawarkan kupon dan keuntungan dengan restoran lokal adalah inisiatif lain, sebuah ide yang menurut seorang anggota staf belum pernah ada sebelumnya.
Menurut pihak kota, jumlah wisatawan langsung menurun setelah kepergian panda pada Juni lalu, tetapi kembali meningkat pada bulan Agustus.
Jumlah total wisatawan di kota tersebut pada tahun 2025 meningkat 2,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data prefektur.
Seorang profesor di Universitas Kokugakuin Hirokazu Kobayashi mengatakan bahwa faktor panda dimaksudkan bersifat sementara, menambahkan bahwa dampak kebijakan yang sangat bergantung pada daya tarik wisata cepat yang dapat memberikan hasil terbatas dalam jangka panjang.
Kobayashi berpendapat bahwa kota ini selalu memiliki lebih banyak hal untuk ditawarkan daripada sekadar panda.
"Mereka perlu melihat kekuatan yang mereka miliki yang berpotensi membuat wisatawan terus datang kembali berulang kali," katanya pula.
Praktik Tiongkok mengirim panda raksasa ke negara lain sebagai pinjaman dikenal sebagai "diplomasi panda" yang bertujuan untuk menunjukkan persahabatan dan niat baik. Namun, hubungan antara Jepang dan Tiongkok telah mendingin akibat perselisihan diplomatik mengenai Taiwan dalam beberapa bulan terakhir.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!