Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Studi Global Temukan Inflamasi Tingkatkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke

📅 Minggu, 28 Jun 2026, 17:08 WIB | Oleh:
Studi Global Temukan Inflamasi Tingkatkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke Doc: Novo Nordisk
Ket. Ilustrasi Jantung Pria Obesitas. Studi Poseidon mengungkap dua dari lima pasien penyakit kardiovaskular berisiko tinggi masih mengalami inflamasi yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke meski telah menjalani terapi sesuai standar.

JAKARTA – Studi global terbaru yang dilakukan Novo Nordisk mengungkap bahwa dua dari lima penyandang penyakit kardiovaskular aterosklerotik (PKVA) yang juga mengalami penyakit ginjal kronis (CKD), maupun pasien gagal jantung, masih mengalami inflamasi kardiovaskular.

Laporan tersebut menyatakan, kondisi inflamasi kardiovaskuler tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung, stroke, hingga kematian akibat penyakit kardiovaskular, meskipun pasien telah menjalani terapi sesuai standar pengobatan saat ini.

Temuan tersebut dipaparkan dalam hasil studi Poseidon yang dipresentasikan pada Kongres ke-94 European Atherosclerosis Society (EAS) di Athena, Yunani. Studi yang melibatkan 18.904 pasien di 18 negara yang mencakup kawasan Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Asia-Pasifik selama periode 2023 hingga 2025.

Penelitian itu menjadi salah satu studi real-world evidence terbesar yang mengevaluasi prevalensi inflamasi kardiovaskular pada pasien dengan risiko tinggi. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 42,7 persen pasien PKVA yang juga mengalami penyakit ginjal kronis memiliki inflamasi kardiovaskular. Temuan serupa juga ditemukan pada dua dari lima pasien gagal jantung.

Dalam studi tersebut, inflamasi diukur menggunakan pemeriksaan high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP) dengan kadar minimal 2 mg/L. Pemeriksaan darah tersebut menjadi salah satu metode yang paling umum digunakan untuk mengidentifikasi inflamasi pada pembuluh darah.

Berbeda dengan peradangan akibat infeksi, inflamasi kardiovaskular umumnya tidak menimbulkan gejala. Namun, apabila berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke.

Temuan ini juga menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam tata laksana penyakit kardiovaskular. Meski pasien telah memperoleh terapi untuk mengendalikan kolesterol, tekanan darah, maupun gula darah sesuai pedoman klinis, risiko yang dipicu oleh inflamasi tetap dapat berlangsung.

Senior Vice President sekaligus Chief Medical Officer Novo Nordisk, Filip Knop, mengatakan hasil studi tersebut menunjukkan bahwa inflamasi merupakan faktor risiko penting yang selama ini masih belum sepenuhnya tertangani.

"Studi Poseidon menyajikan bukti penting bahwa inflamasi kardiovaskular merupakan sumber risiko yang signifikan dan tetap berlanjut pada pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik serta penyakit ginjal kronis atau gagal jantung, meskipun telah menerima terapi sesuai standar perawatan saat ini," ujar Filip dalam keterangannya pada hari Kamis (25/6).

Menurutnya, pemahaman mengenai besarnya peran inflamasi menjadi landasan penting bagi pengembangan terapi baru yang dapat menjawab kebutuhan medis yang hingga kini belum terpenuhi.

Di Indonesia, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 30 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit kardiovaskular, termasuk stroke dan penyakit jantung iskemik.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa upaya pencegahan dan pengelolaan penyakit jantung masih memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada pengendalian faktor risiko konvensional.

Studi Poseidon juga menunjukkan hubungan erat antara inflamasi dan penyakit ginjal kronis. Inflamasi diketahui dapat mempercepat progresivitas kerusakan ginjal, sementara penyakit ginjal kronis juga dapat memicu inflamasi yang semakin meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.

Selain itu, inflamasi ditemukan pada seluruh spektrum pasien gagal jantung, baik dengan fraksi ejeksi yang dipertahankan, sedikit menurun, maupun menurun. Kondisi tersebut juga lebih sering dijumpai pada pasien dengan obesitas, penyakit ginjal, dan gangguan metabolik lainnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Bapanas Optimistis Stok Pan...

Kemenbud Laksanakan Revitalisasi 159 Aset Budaya

57 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Kemenbud Laksanakan Revital...
Luar Negeri
Tiongkok Berencana Perluas ...
  • Dua Minggu Hilang, Seekor Jerapah Bernama Gracie Ditemukan Segar Bugar 6 Km dari Kandangnya di Texas
    Preview komentar:
    Siapa juga yang mau nyuri Jerapah :) Dia ...
  • Dalam 3 Tahun Terakhir, 114 Orang Menabrakkan Diri di Jalur Kereta Api
    Preview komentar:
    Mereka adalah korban tekanan hidup dan ketidakberdayaan sbg ...
  • Hasil Pertandingan Grup F Piala Dunia 2026: Jepang Kuntit Belanda Usai Singkirkan Tunisia dengan Skor Telak 4-0
    Preview komentar:
Jadwal Lengkap Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Jadwal Lengkap Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

28 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.