Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Wajib Tahu! Kurang Tidur di Usia 40-an dan 50-an Bisa Meningkatkan Risiko Alzheimer di Kemudian Hari

📅 Selasa, 23 Jun 2026, 14:57 WIB | Oleh:
Wajib Tahu! Kurang Tidur di Usia 40-an dan 50-an Bisa Meningkatkan Risiko Alzheimer di Kemudian Hari Doc: Resmed
Ket. Membatasi paparan layar ponsel sebelum tidur bisa membantu tidur Anda lebih baik.

Bisakah kurang tidur di usia paruh baya mempengaruhi otak Anda beberapa dekade kemudian? Para ahli mengatakan kurang tidur dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer dengan mengganggu kemampuan otak membersihkan protein beracun yang terkait dengan demensia.

Banyak orang di usia 40-an dan 50-an menganggap kurang tidur sebagai suatu kebanggaan. Hari kerja yang panjang, tanggung jawab keluarga, bermain ponsel hingga larut malam, dan menonton streaming tanpa henti seringkali membuat waktu tidur semakin larut. 

Meskipun konsekuensinya terbatas pada rasa kantuk, mudah marah, dan energi rendah keesokan harinya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa efek kurang tidur dapat meluas jauh lebih jauh, berpotensi mempengaruhi kesehatan otak beberapa dekade kemudian.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia hidup dengan demensia, penyakit Alzheimer menyumbang sekitar 60-70 persen dari kasus tersebut. Seiring bertambahnya usia populasi, pemahaman tentang faktor risiko yang dapat dimodifikasi telah menjadi prioritas utama kesehatan masyarakat.

Para ahli, seperti Dr. Manjari Tripathi, seorang Kepala Neurologi di AIIMS, mengatakan, meskipun genetika berperan, faktor gaya hidup, termasuk kualitas tidur, dapat secara signifikan memengaruhi kesehatan otak jangka panjang. Kabar baiknya? Tidur adalah salah satu faktor risiko yang dapat diperbaiki. Berikut penjelasannya seperti yang ditulis di NDTV.

Bagaimana Kurang Tidur Mempengaruhi Otak

Tidur bukan sekadar periode istirahat. Tidur adalah proses biologis aktif di mana otak dan tubuh menjalani perbaikan dan pemeliharaan yang penting. Menurut dokter, paparan layar dan cahaya terang sebelum tidur dapat mengganggu proses ini secara signifikan.

"Semua rangsangan berlebihan di siang hari, baik berupa paparan cahaya terang dari layar, komputer, ponsel, atau tablet, dapat memengaruhi tidur, terutama jika aktivitas ini dilakukan tepat sebelum tidur," jelas Dr. Tripathi. "Idealnya, semua layar harus dimatikan sekitar satu jam sebelum tidur agar tidak memengaruhi sekresi melatonin. Melatonin adalah hormon alami yang mendorong tidur. Jika Anda terpapar cahaya terang dari komputer atau perangkat seluler, sekresi melatonin akan tertekan, dan tidur akan tertunda."

Salah satu penemuan terpenting dalam ilmu tidur selama dekade terakhir adalah peran sistem glimfatik. Dr. Tripathi menjelaskan: "Tidur sangat penting sejak masa kanak-kanak hingga usia lanjut. Selama tidur, sistem organ tertentu terbuka, yang dikenal sebagai glimfatik. Glimfatik hanya terbuka pada tahap tidur 3 dan tidur nyenyak. Ketika glimfatik ini terbuka, mereka bertindak sebagai pompa hisap vakum untuk menarik keluar racun di otak, termasuk beta amiloid, yang menyebabkan penyakit Alzheimer."

Penelitian yang diterbitkan oleh National Institutes of Health (NIH) mendukung konsep ini. Para ilmuwan telah menemukan bahwa sistem glimfatik menjadi jauh lebih aktif selama tidur, membantu menghilangkan produk limbah metabolisme dari otak, termasuk protein amiloid-beta dan tau yang terkait dengan penyakit Alzheimer.

"Jika kita tidak tidur nyenyak dan tidak mencapai tidur pulas, saluran glimfatik tidak akan terbuka dengan baik, dan racun-racun ini tidak akan dikeluarkan. Racun-racun tersebut dapat menumpuk di otak, berpotensi menyebabkan demensia Alzheimer," kata Dr. Tripathi.

Mengapa Tidur di Usia Paruh Baya Penting

Meskipun gejala Alzheimer biasanya muncul di usia lanjut, para ilmuwan percaya bahwa proses penyakit ini mungkin dimulai beberapa dekade sebelum gejalanya terlihat. Sebuah studi besar yang diterbitkan di Nature Communications menemukan bahwa orang-orang berusia 50-an dan 60-an yang secara teratur tidur enam jam atau kurang per malam memiliki risiko lebih tinggi terkena demensia dibandingkan dengan mereka yang tidur tujuh jam atau lebih.

Para ahli semakin memandang usia paruh baya sebagai periode kritis untuk melindungi kesehatan otak jangka panjang. Dr. Tripathi menekankan bahwa tidur tidak boleh diabaikan di usia berapa pun.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Belarus Cemas Jumlah Latiha...
Luar Negeri
Insiden Maut Chiang Rai: Te...

Yen Jepang Makin Terperosok Dekati Rekor Terendah

41 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Yen Jepang Makin Terperosok...
Luar Negeri
Armenia Terbelah Dua Kubu A...
Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.