Rahasia Pembentukan Kulit Bumi Terungkap
📅 Senin, 13 Jul 2026, 20:20 WIB | Oleh: Haryo BronoPARA ilmuwan untuk pertama kalinya dalam sejarah berhasil menyaksikan secara langsung proses terbentuknya kerak samudra baru di dasar laut, sebuah peristiwa geologi yang selama ini hanya dipahami melalui teori, simulasi komputer, dan bukti-bukti tidak langsung.
Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting dalam ilmu kebumian karena membuka “jendela” baru untuk memahami bagaimana Bumi terus memperbarui permukaannya melalui aktivitas tektonik yang berlangsung jauh di bawah lautan.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature itu merupakan hasil penelitian tim internasional yang dipimpin ahli geofisika kelautan Jean-Yves Royer dari Centre National de la Recherche Scientifique atau French National Center for Scientific Research (CNRS), Prancis. Penelitian mereka berhasil merekam secara rinci proses lahirnya kerak samudra baru di kawasan Southeast Indian Ridge, salah satu punggungan tengah samudra yang terletak di antara Australia dan Antartika.
Menurut Royer, pencapaian tersebut bahkan melampaui seluruh ekspektasi tim peneliti. Awalnya mereka hanya berharap dapat mengamati perubahan kecil pada dasar laut yang terjadi secara bertahap. Ia bahkan tidak membayangkan akan berhasil merekam peristiwa itu.
“Kami sama sekali tidak membayangkan akan berhasil merekam peristiwa sebesar ini. Kami hanya berharap dapat mengukur peregangan perlahan pada punggungan tengah samudra, mungkin hanya beberapa sentimeter, yang memungkinkan tegangan tektonik terus menumpuk sebelum akhirnya dilepaskan,” ujar Royer dikutip dari Science Alert.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebaliknya, tim justru berhasil merekam peristiwa yang diperkirakan hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade. Mereka menyaksikan dasar laut bergeser hingga beberapa meter hanya dalam hitungan hari.
Pabrik Pembentuk Kerak Bumi
Kerak samudra merupakan lapisan batuan yang membentuk sebagian besar dasar laut di planet ini. Berbeda dengan kerak benua yang relatif lebih tua dan tebal, kerak samudra terus diperbarui melalui proses yang dikenal sebagai seafloor spreading atau penyebaran dasar laut.
Proses tersebut berlangsung di sepanjang sistem punggungan tengah samudra (mid-ocean ridge), yakni rangkaian pegunungan bawah laut yang membentang sekitar 65.000 kilometer mengelilingi Bumi. Kawasan ini menjadi batas tempat dua lempeng tektonik bergerak saling menjauh.
Ketika kedua lempeng tersebut terpisah, terbentuk celah pada dasar laut. Melalui celah inilah magma dari mantel Bumi naik ke permukaan. Setelah bersentuhan dengan air laut yang sangat dingin, magma dengan cepat mendingin dan mengeras menjadi kerak samudra baru.
Proses ini menghasilkan lebih dari dua pertiga permukaan Bumi. Artinya, sebagian besar “kulit” planet Bumi sebenarnya lahir dari aktivitas vulkanik bawah laut yang terus berlangsung selama ratusan juta tahun.
Meski merupakan salah satu proses geologi paling penting di Bumi, pembentukan kerak samudra hampir tidak pernah dapat diamati secara langsung. Penyebabnya adalah sebagian besar punggungan tengah samudra berada di kedalaman beberapa kilometer di bawah permukaan laut, wilayah yang gelap, bertekanan sangat tinggi, dan sulit dijangkau manusia.
Observatorium Bawah Laut
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Royer bersama rekan-rekannya mengembangkan observatorium bawah laut yang diberi nama Observatory with Hydro-Acoustics and Geodesy near Amsterdam Island (OHA-GEODAMS).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!