Hilirisasi dan Logistik Terintegrasi Disiapkan untuk Perkuat Ketahanan Pangan di Indonesia Timur
📅 Sabtu, 20 Jun 2026, 17:12 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA– Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi pertanian dan perikanan. Dibutuhkan pula dukungan infrastruktur, industri pengolahan, sistem logistik yang efisien, serta akses pasar yang mampu memberikan nilai tambah bagi petani dan nelayan.
Pandangan tersebut menjadi landasan berbagai inisiatif yang dikembangkan Gobel Group di Gorontalo selama beberapa dekade terakhir. Dalam ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 yang berlangsung di Gorontalo pada 20–25 Juni 2026, perusahaan menampilkan sejumlah program strategis yang diklaim menjadi bagian dari pembangunan ekosistem pangan terintegrasi di Indonesia Timur.
Mengusung tema "Transformasi Teknologi dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional", PENAS XVII menjadi wadah kolaborasi antara petani, nelayan, penyuluh, pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah untuk memperkuat kemandirian pangan nasional.
Chairman Gobel Group, Rachmat Gobel, mengatakan bahwa partisipasi perusahaan dalam ajang tersebut merupakan bentuk komitmen yang telah dijalankan sejak lama untuk mendukung sektor pertanian dan perikanan Indonesia.
Menurutnya, komitmen tersebut telah menjadi bagian dari sejarah perusahaan sejak generasi pendiri. Pada 1963, pendiri Gobel Group, almarhum Thayeb Mohammad Gobel, mendirikan PT Pabrik Diesel dan Traktor (Paditraktor) yang menyediakan berbagai alat mekanisasi pertanian seperti traktor, pengering gabah, alat penyemprot hama, hingga mesin pengolah beras guna membantu petani meningkatkan produktivitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami meyakini bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi. Ketahanan pangan membutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan petani dan nelayan dengan teknologi, infrastruktur, industri hilir, sistem logistik yang efisien, serta akses pasar yang berkelanjutan," ujar Rachmat Gobel melalui keterangannya pada hari Sabtu (20/6).
Dalam pameran tersebut, Gobel Group menampilkan berbagai proyek yang telah dikembangkan di Gorontalo, mulai dari pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gorontalo, pengembangan Pelabuhan Internasional Anggrek Gorontalo International Terminal (AGIT), perluasan akses pasar produk pertanian melalui kemitraan internasional, hingga pemanfaatan teknologi untuk mendukung produktivitas masyarakat.
Gorontalo Disiapkan Menjadi Pusat Agrominapolitan Indonesia Timur
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbagai proyek yang dikembangkan tersebut merupakan bagian dari visi jangka panjang pembangunan Gorontalo yang dikenal sebagai Visi Gorontalo 2051. Melalui konsep ini, Gorontalo diproyeksikan menjadi pusat agrominapolitan Indonesia Timur yang mampu mengintegrasikan sektor pertanian, perikanan, industri pengolahan, perdagangan, dan logistik dalam satu ekosistem ekonomi.
Visi tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga memperluas investasi, membuka lapangan kerja baru, memperkuat konektivitas, serta mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan visi tersebut, termasuk membangun infrastruktur pendukung dan menjalin kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat sektor pertanian dan perikanan sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
KEK Gorontalo Diharapkan Perkuat Hilirisasi
Salah satu proyek utama yang diperkenalkan adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gorontalo yang dirancang dengan konsep Agrominapolitan Hijau dan Halal. KEK ini diproyeksikan menjadi pusat hilirisasi berbagai komoditas unggulan daerah, seperti jagung, kakao, kelapa, perikanan, hingga peternakan sapi. Melalui kawasan tersebut, komoditas yang sebelumnya dijual dalam bentuk bahan mentah diharapkan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi sebelum dipasarkan.
Sebagai contoh, kelapa tidak hanya dipasarkan sebagai bahan baku, tetapi dapat diolah menjadi santan beku, minyak kelapa, margarin, serat kelapa (cocofiber), hingga briket karbon aktif. Sementara jagung berpotensi dikembangkan menjadi pakan ternak, tepung jagung, sirup glukosa, maupun bioetanol.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!