Hilirisasi dan Logistik Terintegrasi Disiapkan untuk Perkuat Ketahanan Pangan di Indonesia Timur
📅 Sabtu, 20 Jun 2026, 17:12 WIB | Oleh: Haryo BronoKonsep hilirisasi ini dinilai penting untuk meningkatkan nilai ekonomi yang dinikmati masyarakat lokal sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.
Berdasarkan kajian yang disusun bersama tim ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB), pengembangan KEK Gorontalo diperkirakan mampu menciptakan sekitar 17.220 lapangan kerja tambahan dibandingkan skenario tanpa KEK. Pada 2051, sektor industri di kawasan tersebut diproyeksikan mampu menyerap lebih dari 129 ribu tenaga kerja.
Selain membuka peluang kerja, kawasan tersebut juga diharapkan menjadi magnet investasi baru yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Gorontalo dan wilayah Indonesia Timur secara lebih luas.
AGIT Jadi Pintu Ekspor Indonesia Timur
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain kawasan industri, Gobel Group juga menyoroti peran PT Anggrek Gorontalo International Terminal (AGIT) sebagai infrastruktur logistik yang mendukung pengembangan ekonomi daerah. Pelabuhan internasional yang dikembangkan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) tersebut dirancang dengan konsep smart green port untuk meningkatkan efisiensi logistik sekaligus memperkuat konektivitas Indonesia Timur dengan pasar nasional dan internasional.
Keberadaan AGIT dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung hilirisasi karena memungkinkan produk-produk bernilai tambah dari Gorontalo dan sekitarnya lebih mudah menjangkau pasar ekspor.
Sepanjang 2025, pelabuhan tersebut telah melayani ekspor sekitar 36 ribu ton molases atau tetes tebu ke Korea Selatan. Sebelumnya, komoditas tersebut juga telah dikirim ke sejumlah negara seperti Filipina, Australia, Somalia, dan Malaysia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, sekitar 64 ribu ton pelet kayu (wood pellet) juga diekspor ke Jepang dan Korea Selatan melalui fasilitas AGIT.
Peningkatan aktivitas ekspor tersebut menunjukkan semakin besarnya peran Gorontalo sebagai salah satu simpul perdagangan dan logistik di kawasan Indonesia Timur.
Membuka Akses Pasar Global bagi Petani
Upaya Gobel Group tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur dan kawasan industri. Perusahaan juga mengembangkan model kemitraan yang bertujuan memperluas akses pasar bagi hasil pertanian lokal.
Salah satunya melalui kolaborasi dengan perusahaan asal Jepang, Châteraisé, yang menghubungkan hasil pertanian petani Indonesia dengan rantai pasok internasional melalui konsep farm-to-factory.
Melalui pendekatan tersebut, hasil panen petani tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!