Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Proyek Waste to Energy Kota Bekasi Dibayangi “Korupsi dan Gratifikasi”?

📅 Senin, 15 Jun 2026, 13:32 WIB | Oleh: Tim Penulis

Beberapa warga Ciketingudik menceritakan, adanya indikasi pasca pembayaran tanah, beberapa orang yang dimaksud langsung membeli mobil baru. Ada satu dan ada beberapa unit mobil baru di pajang di depan rumah. Informasi tersebut masih harus diteliti secara hati-hati dan mendalam.

Jika pada tahap awal proyek sudah terindikasi adanya praktek kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) serta gratifikasi, maka dikhawatir praktek-praktek hazard akan membayangi implementasi proyek WtE tersebut. Tentu ini sangat berbahaya. Tantangan terbesar proyek WtE adalah KKN dan gratifikasi! Karena ujungnya akan mengurangi kualitas infrastruktur dan teknologi yang dipasang, rentetannya tidak mampu memenuhi target produksi?

Sebelum WtE tersebut beroperasi 2027, persoalan darurat TPA Sumurbatu harus diselesaikan secara tuntas menjadi TPA ramah lingkungan, minimal controlled landfill. TPA tersebut harus ditata rapi dan di- soil cover guna mengendalikan bau, gas-gas sampah, vectors dan insects. Pemkot Bekasi harus meninggalkan praktek TPA open dumping.

Instalasi pengolahan air sampah (IPAS) harus dioperasikan 24 jam penuh setiap hari. Sayangnya, IPAS tersebut sudah lebih sepuluh tahun tidak dioperasikan. Akibatnya leachate mengalir langsung ke Kali Asem, pencemaran lingkungan dan ancaman kesehatan makin masif. Sebagaimana laporan Tim Monev TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu 2025.

Mampukah WtE ini jadi solusi penyelesaian kedaruratan sampah di Kota Bekasi? KLH/BPLH menyatakan, proyek WtE hanya menyelesaikan 13% masalah sampah. Artinya butuh solusi lain yang berjalan secara komplementer dan mutual simbiosis.

KLH/BPLH melakukan simulasi metodologi, beberapa penyelesaian sampah di sebagai berikut: (1) Pengolahan Organik dari Sumber - 12,4% menyelesaikan masalah sampah. (2) TPS 3R atau Bank Sampah Induk - 19,84% menyelesaikan masalah sampah. (3) TPST RDF - 12,19% menyelesaikan masalah sampah. (4) TPST Non RDF - 33,08 - 41,94% menyelesaikan masalah sampah. (5) Waste to Energy - 13,6% menyelesaikan masalah sampah.

Masukan Wujudkan WtE

Proyek WtE yang akan dibangun itu mampu mengolah sampah 1.000 ton per hari? Saya memberi catatan penting di sini sebagai input konstruktif sebagai bahan pengambilan keputusan dan kebijakan pada Pemkot Bekasi dan corporate pelaksana.

Pertama, proyek WtE memberi manfaat apa kepada warga sekitar yang terkena dampak langsung. Perusahaan dan Pemkot Bekasi harus memikirkan sejak awal. Apakah warga akan diberi kompensasi atau uang bau atau bentuk lain?

Kedua, sekeliling proyek WtE harus diberi pagar hijau (green belt) untuk memisahkan dengan pemukiman warga. Juga sebagai pengendalian asap dan debu.

Ketiga, sebelum proyek WtE beroperasi penuh hingga 1,5-2 tahun ke depan, yang perlu dipikirkan adalah menangani kedaruratan sampah, terutama TPA. Segala potensi harus dikerahkan, pengolahan sampah dari sumber melibatkan multi-stakholders. Kondisi darurat tersebut tidak bisa hanya berpangku tangan memimpikan kehebatan WtE.

Keempat, berapa besar kehebatan WtE dalam mereduksi sampah? Mungkin mampu mereduksi sampah hingga 70-80% atau 80-90%. Kategorial kemampuan mereduksi tersebut tergolong hebat. Ini inti pembangunan WtE, sedang listrik itu hanya bonus. Jika hanya mampu mereduksi 13-20% atau 20-30% maka dianggap sebagai proyek gagal.

Ada beberapa WtE dalam perjalanannya mengalami kegagalan disebabkan berbagai fakor. Misal, PLTSa Merah Putih TPST Bantargebang selalu dibilang dan diliris pada sejumlah media mampu mengolah sampah 100 ton/hari. Sebenarnya, fakta di lapangan PLTSa itu hanya mampu mengolah 50-60 ton/hari.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
Nasional
Pemerintah Bahas Upaya Perl...
Luar Negeri
Sebut Kuba 'Negara Gagal', ...
Advertisement
Mengagetkan, Ombudsman RI Temukan Fasilitas Berstandar Apartemen di Lapas Cibinong, Kabupaten Bogor

Mengagetkan, Ombudsman RI Temukan Fasilitas Berstandar Apartemen di Lapas Cibinong, Kabupaten Bogor

23 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.