Rupiah Kembali Menguat , Bertahan di Bawah Rp18.000 per Dollar AS
📅 Jumat, 12 Jun 2026, 17:30 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dollar AS dalam pembukaan perdagangan di pasar spot hari ini. Pada Kamis kemarin rupiah ditutup melemah sebesar 0,25 persen ke posisi Rp17.988 per dollar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, pukul 09.30 WIB, rupiah dibuka naik 0,21 persen atau 37 poin. Sehingga nilai tukar rupiah menguat menjadi Rp17.951 per dollar AS.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dollar AS oleh harapan damai di Timur Tengah. Menyusul pernyataan Trump bahwa kesepakatan dengan Iran akan terjadi dalam waktu dekat," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Jumat (12/6).
Rupiah hari ini, menurut Lukman, akan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.000 per dollar AS. Sementara itu, indeks dollar AS melemah ke level 99,84.
Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai kenaikan suku bunga BI cukup efektif menstabilkan rupiah. BI pada Selasa (9/6), kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen sehingga sepanjang tahun ini, BI sudah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps).
Sebaiknya Anda baca juga:
"Penguatan rupiah yang kembali berada di bawah 18.000 terutama didorong oleh intervensi BI," ujar Rully.
Tanpa intervensi, nilai tukar rupiah kemungkinan masih bergerak di kisaran Rp18.100–Rp18.200 per dollar AS. Rully menyebut probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan masih cukup besar.
"Terutama jika rupiah tetap bertahan di sekitar level Rp18.000 per dollar AS," ucap dia. Sementara itu, aliran keluar modal asing masih terjadi baik di pasar saham maupun SBN.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Rully, per 9 Juni, porsi kepemilikan domestik di SBN terus meningkat sementara kepemilikan asing menurun. Sehingga tekanan depresiasi terhadap rupiah masih bertahan.
"Secara keseluruhan, kami memperkirakan total kenaikan suku bunga dalam siklus ini sekitar 125 bps. Kenaikan suku bunga akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan dan pendapatan perusahaan, sehingga membatasi ruang penguatan fundamental bagi IHSG," kata Rully menutup analisisnya. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!